Daerah

Warga Bojonegoro Temukan Trenggiling di Tepi Jalan, Begini Akhirnya

×

Warga Bojonegoro Temukan Trenggiling di Tepi Jalan, Begini Akhirnya

Sebarkan artikel ini

BOJONEGORO – Seekor trenggiling (Manis javanica) nyaris kehilangan nyawa setelah ditemukan berada di tepi jalan raya Desa Paling, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (1/10/2026).

Satwa liar tersebut berada dalam posisi yang membahayakan karena kendaraan, termasuk truk, terus melintas di jalur tersebut.

Beruntung, warga yang melihat keberadaannya memilih berhenti dan mengamankan trenggiling itu sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.

Informasi mengenai temuan satwa dilindungi tersebut kemudian diteruskan kepada Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), serta Damkarmat Kabupaten Bojonegoro.

Melalui Damkarmat Kabupaten Bojonegoro, trenggiling kemudian diserahkan kepada Tim Matawali untuk mendapatkan penanganan sebelum dikembalikan ke habitat alaminya.

Menariknya, trenggiling tersebut tidak lama berada dalam penanganan manusia.

Sehari setelah ditemukan, satwa itu langsung mendapat kesempatan untuk kembali hidup di alam liar.

Pada Jumat (2/10/2026), Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 03 bersama Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro membawa trenggiling tersebut menuju kawasan Hutan Lindung Kerawak, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban.

Kawasan tersebut dipilih sebagai lokasi pelepasliaran berdasarkan hasil koordinasi tim dan dinilai sesuai sebagai habitat alami trenggiling.

Proses pelepasliaran turut melibatkan Masyarakat Mitra Polhut (MMP), KRPH Mulyoagung beserta jajaran lapangan RPH Mulyoagung, BKPH Mulyoagung, KPH Parengan, serta tokoh masyarakat dari Desa Mulyoagung dan Desa Guwoterus.

Perjalanan trenggiling itu pun seolah berubah arah hanya dalam waktu sehari.

Kamis, satwa tersebut berada di tepi jalan, berhadapan dengan lalu lintas kendaraan dan lingkungan yang penuh aktivitas manusia.

Jumat, ia kembali berada di kawasan hutan yang menjadi ruang hidup alaminya.

Di balik penyelamatan itu terdapat rangkaian kepedulian dari banyak pihak.

Warga menjadi orang pertama yang memilih berhenti dan menyelamatkan satwa tersebut.

Damkarmat membantu proses penanganan, sementara petugas konservasi, Perhutani, MMP dan masyarakat bersama-sama memastikan trenggiling dapat kembali ke alam.

Kisah tersebut mungkin terlihat sederhana, tidak ada operasi besar ataupun penanganan yang panjang.

Hanya ada seseorang yang melihat satwa liar berada di tempat berbahaya, kemudian memilih untuk tidak membiarkannya menghadapi risiko tertabrak kendaraan.

Pilihan sederhana itu akhirnya menjadi kesempatan kedua bagi seekor trenggiling.

Dari tepi jalan Desa Paling, Bojonegoro, satwa tersebut akhirnya menempuh perjalanan menuju Hutan Lindung Kerawak, Tuban.

Kali ini, perjalanan itu berakhir bukan di bawah roda kendaraan, melainkan di habitat yang semestinya menjadi rumahnya yakni alam liar. (yin)