Investigasi

Pilkades Sukorejo Bojonegoro Kacau: Penolakan Peserta Picu Ricuh

orbitnasional333
10130
×

Pilkades Sukorejo Bojonegoro Kacau: Penolakan Peserta Picu Ricuh

Sebarkan artikel ini
1763100365581 copy 1280x720

BOJONEGOROProses tes Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Pergantian Antar Waktu (PAW) di Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro, Jumat (14/11/2025 ) berubah panas dan memicu kericuhan.

Kekacauan dipicu penolakan panitia terhadap salah satu peserta yang sebelumnya menolak undangan ujian. Kejadian ini langsung menyulut gunjingan warga dan menimbulkan tanda tanya besar soal profesionalitas panitia.

Meski sempat berlangsung tegang, ujian akhirnya digelar di aula Balai Desa Sukorejo sekitar pukul 09.30 WIB dengan tujuh peserta, dan selesai pada 10.15 WIB. Namun drama belum berhenti.

Setelah ujian, peserta kembali memprotes keputusan panitia yang bersikeras melakukan koreksi dan pengumuman nilai pada malam hari. Peserta mempertanyakan alasan penundaan tersebut karena dianggap tidak logis dan berpotensi menimbulkan kecurigaan.

Seorang peserta yang enggan disebut identitasnya menilai langkah panitia sangat janggal.

“Di desa lain selesai ujian langsung dikoreksi dan diumumkan. Kalau ditunda begitu, wajar kalau masyarakat curiga,” tegasnya.

Menurutnya, proses koreksi tidak membutuhkan waktu lama jika panitia benar-benar ingin transparan.

Kejanggalan lain muncul dari ketidakjelasan pembuat soal. Peserta menilai panitia tertutup dan tidak terbuka sejak awal. Soal konon dibuat tiga minggu sebelumnya, namun siapa penyusunnya tak pernah diumumkan.

Panitia Pilkades PAW, Teguh Supriyadi, saat dikonfirmasi justru menyebut hal itu sebagai “rahasia panitia”.

“Yang jelas, soal dibuat orang yang berkompeten dari Dinas Pendidikan,” katanya tanpa memberi rincian.

Jawaban itu semakin memperkuat dugaan publik bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah desakan keras peserta dan sorotan warga, akhirnya panitia dipaksa melakukan koreksi langsung. Proses ini bahkan diawasi ketat aparat gabungan, Polisi, TNI, Satpol PP, dan Linmas, untuk mencegah tuduhan manipulasi.

Hasil ujian kemudian dibacakan di depan publik dengan rincian, Meyke Lelyanasari nilai 88, Muhtarom nilai 86,5, Syahli nilai 82,5, Nur Fandolani nilai 74, Khamim nilai 64, Sukirno nilai 50 dan April Teguh Budi Santoso nilai 44.

Camat Bojonegoro Kota, Mochlisin Andi Irawan, membenarkan adanya ketegangan dalam proses tersebut.

“Panitia awalnya ingin koreksi malam hari. Karena protes peserta, akhirnya dikoreksi saat itu juga, bahkan dicek tiga kali,” ujarnya.

Pilkades PAW Sukorejo menjadi desa pertama yang melaksanakan pemilihan melalui mekanisme Musyawarah Desa (Musdes). Ironisnya, justru di desa ini banyak muncul kegaduhan dan keraguan publik terhadap integritas panitia.

Kericuhan yang terjadi kini menjadi buah bibir warga. Banyak yang menilai panitia terlalu tertutup dan tidak solid menjalankan proses secara jujur dan terbuka. (Yin)