Pemerintahan

Belum Seminggu Sudah Dijual, Pemerintah Bojonegoro Ingatkan Disiplin Program Gayatri

orbitnasional333
5168
×

Belum Seminggu Sudah Dijual, Pemerintah Bojonegoro Ingatkan Disiplin Program Gayatri

Sebarkan artikel ini
1763803764222 copy 1280x828

BOJONEGORO — Program pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat kembali bergulir. Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro resmi menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya Ayam Petelur bagi para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Gayatri, Jumat (21/11/2025).

Kegiatan ini berlangsung di Balai Desa Panjang, Kecamatan Kedungadem, dan diikuti 100 peserta dari lima desa, yakni Panjang, Mlideg, Tondomulo, Kesongo, dan Dayukidul.

Acara tersebut turut dihadiri Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Drs. Sukaemi, jajaran Disnakkan, perangkat desa, tokoh masyarakat, dan narasumber.

Fajar Trihantoro yang mewakili Kepala Disnakkan Bojonegoro, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah resmi lolos proses verifikasi dan ditetapkan melalui SK Bupati.

Menurutnya, proses seleksi dilakukan secara menyeluruh mulai dari pengecekan lokasi, kesiapan penerima hingga pemahaman awal mengenai teknis pemeliharaan ayam petelur.

“Kami berharap bantuan ini dirawat, bukan hanya diterima. Program Gayatri bukan hanya bantuan, tapi investasi untuk masa depan keluarga,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Desa Panjang yang telah memfasilitasi sarana dan dukungan kegiatan.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Drs. Sukaemi, yang mewakili Bupati Bojonegoro, menegaskan bahwa Program Gayatri merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah dalam meningkatkan pendapatan sekaligus memenuhi gizi keluarga.

Namun, ia menekankan adanya aturan penting yang harus dipatuhi peserta yaitu, hasil telurnya silakan dimakan atau dijual. Tapi ayamnya jangan sampai dijual.

“Itu aset produksi, bukan komoditas yang boleh diperjualbelikan,” ucapnya.

Dia bahkan mengingatkan pengalaman di beberapa desa lain, di mana penerima bantuan justru menjual ayam hanya selang beberapa hari setelah diterima.

“Jangan ulangi kesalahan itu. Program ini dibuat untuk memberdayakan, bukan sesaat,” pesannya.

Sebagai narasumber, praktisi peternakan ayam petelur Khoirul Huda, memberikan pembekalan teknis mulai dari pemilihan bibit, manajemen pakan, sistem kandang hingga standar keberhasilan budidaya.

Menurut Huda, bibit unggul memiliki ciri sehat, aktif, tidak cacat fisik, umur seragam dan berbobot sesuai standar. Ia juga menyebut beberapa strain ayam petelur unggulan seperti Lohman, Hyline, Hisex, Isaa hingga Novogen.

Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya efisiensi pemeliharaan. “Semakin efisien penggunaan pakan dan manajemen kandang, semakin tinggi produktivitas dan keuntungan,” ungkapnya.

Dirinya juga menjelaskan standar ideal kandang mulai dari ventilasi, pencahayaan (14–16 jam/hari), suhu (20–28°C), kelembaban, sanitasi, hingga jenis desain kandang seperti baterai dan postal.

Dengan materi, bantuan sarana produksi, dan pendampingan lanjutan, pemerintah berharap para KPM mampu mengembangkan usaha mandiri sehingga mampu meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga dan membuka peluang usaha baru.

Program Gayatri 2025 resmi berjalan. Kini, giliran para penerima membuktikan bahwa bantuan yang diberikan mampu menjadi sumber penghasilan sekaligus kontribusi nyata dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat Bojonegoro. (Yin)