Daerah

Waspada, Jantung Bawaan Ancam Bayi, Ini Pesan Dokter RSUD Bojonegoro

amunisinews001
7785
×

Waspada, Jantung Bawaan Ancam Bayi, Ini Pesan Dokter RSUD Bojonegoro

Sebarkan artikel ini
IMG 20260213 WA0005

BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus menguatkan edukasi kesehatan kepada masyarakat, salah satunya dengan mengangkat isu penting tentang penyakit jantung bawaan.

Bersinergi dengan RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, Bojonegoro upaya tersebut diwujudkan melalui talkshow radio yang menghadirkan dr Ahadi, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.

Dalam sesi edukatif yang dikemas santai namun sarat informasi tersebut, dr. Ahadi mengupas tuntas tentang pentingnya deteksi dini penyakit jantung bawaan sejak masa kehamilan hingga bayi dilahirkan.

Ia menjelaskan bahwa penyakit jantung bawaan merupakan kelainan struktur maupun fungsi jantung, termasuk pembuluh darah besar, yang terbentuk sejak janin dalam kandungan.

Kondisi ini berbeda dengan penyakit jantung yang muncul akibat gaya hidup di usia dewasa.

“Penyakit jantung bawaan umumnya terjadi karena proses pembentukan jantung yang tidak sempurna sejak kehamilan. Sementara penyakit jantung yang didapat lebih banyak dipicu faktor eksternal seperti pola makan tidak sehat, merokok, dan gaya hidup,” terang dr. Ahadi.

Berdasarkan data yang ada, di Kabupaten Bojonegoro tercatat sekitar 6 hingga 12 kasus penyakit jantung bawaan per 1.000 kelahiran hidup.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kewaspadaan dan pemeriksaan sejak dini menjadi kunci utama agar anak mendapatkan penanganan tepat waktu.

Deteksi dini biasanya dimulai melalui pemeriksaan oleh dokter spesialis anak.

Jika ditemukan indikasi kelainan, pasien akan dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan ke dokter spesialis jantung guna memastikan diagnosis dan menentukan langkah penanganan.

Hingga kini, belum ada satu penyebab tunggal yang dapat dipastikan sebagai pemicu penyakit jantung bawaan.

Namun, sejumlah faktor risiko diketahui dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi tersebut.

Di antaranya faktor genetik, serta faktor dari ibu selama kehamilan seperti infeksi rubella, konsumsi alkohol, rokok, dan penggunaan obat-obatan tertentu, termasuk obat hipertensi tanpa pengawasan medis.

Adapun gejala yang patut diwaspadai antara lain bayi tampak cepat lelah saat menyusu, berat badan sulit naik sesuai usia, sering mengalami infeksi saluran pernapasan, hingga muncul warna kebiruan pada bibir atau kuku saat menangis.

Pada anak yang lebih besar, tanda dapat terlihat dari kuku yang cembung dan keluhan mudah lelah saat beraktivitas fisik.

Penanganan penyakit jantung bawaan sangat bergantung pada jenis dan tingkat keparahan kelainan.

Pada kasus tertentu dengan lubang jantung berukuran kecil, terdapat kemungkinan menutup secara alami dalam waktu 5–6 tahun dengan pemantauan rutin.

Namun, bila kelainan tidak menutup atau berukuran besar, diperlukan tindakan lanjutan.

“Penanganan bisa berupa tindakan kateterisasi pada kasus tertentu, hingga operasi jantung pada kondisi yang lebih kompleks,” jelas dr. Ahadi.

Sebagai rumah sakit rujukan, RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro telah didukung berbagai fasilitas penunjang, mulai dari layanan rawat jalan, rawat inap, perawatan intensif, cathlab, pemasangan pacemaker, hingga pemeriksaan CT Scan untuk menunjang diagnosis dan terapi.

Menutup sesi talkshow, dr. Ahadi menekankan pentingnya kesiapan kesehatan bagi para calon ibu.

Ia menghimbau agar kesehatan diperhatikan secara serius sebelum dan selama masa kehamilan.

Bagi perempuan dengan riwayat penyakit jantung, konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan guna merencanakan kehamilan yang aman bagi ibu dan bayi.

Melalui peringatan Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan, Pemkab Bojonegoro berharap masyarakat semakin sadar bahwa deteksi dini bukan sekedar pilihan, melainkan langkah krusial untuk menjaga keselamatan dan kualitas hidup anak sejak dini demi masa depan yang lebih sehat. (yin)