BOJONEGORO – Pelaksanaan Car Free Day (CFD) perdana di Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro Minggu (15/2/2026), benar-benar membawa berkah bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Sejak matahari baru menyingsing, kawasan pusat Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, sudah dipadati warga yang antusias berolahraga, bersantai, sekaligus berburu kuliner.
Ratusan pengunjung tumpah ruah di sepanjang jalur CFD. Lapak-lapak pedagang yang tertata rapi pun langsung diserbu pembeli.
Momentum ini menjadi suntikan energi baru bagi perekonomian warga setempat.
Salah satu lapak yang mencuri perhatian adalah “Mbak Mu Terasa” dengan sajian bubur khas Madura.
Menu tradisional yang kaya cita rasa itu menjadi primadona sarapan pagi.
Tak sedikit warga yang rela antri demi menikmati semangkuk bubur hangat setelah mengikuti senam bersama dan aktivitas lainnya.
Sepanjang rute CFD, tercatat ada sekitar 110 pelaku UMKM yang ambil bagian.
Mereka menawarkan beragam produk, mulai dari makanan tradisional, minuman segar, jajanan kekinian, hingga produk kerajinan.
Keberagaman ini membuat suasana CFD semakin hidup sekaligus menjadi ruang promosi gratis bagi pelaku usaha lokal.
Ketua Panitia CFD Kedungadem, Jasmo Adi Putra, yang juga menjabat Ketua Karang Taruna setempat, mengaku bersyukur atas tingginya partisipasi masyarakat dalam kegiatan perdana tersebut.
“Kami tidak menyangka antusiasmenya sebesar ini. Peserta senam ramai, pengunjung membludak, dan yang paling membahagiakan, 110 UMKM merasakan dampak positifnya,” ujarnya.
Menurutnya, Car Free Day bukan sekedar ajang olahraga dan hiburan, melainkan juga strategi pemberdayaan ekonomi berbasis masyarakat.
Ia berharap kegiatan ini bisa digelar rutin setiap akhir pekan agar manfaatnya semakin luas dan berkelanjutan.
Senyum para pedagang pun tak terbendung. Banyak yang mengaku dagangannya ludes sebelum acara berakhir.
Apalagi menjelang bulan suci Ramadhan, momen ini menjadi peluang emas untuk meningkatkan omzet sekaligus memperkenalkan produk kepada konsumen baru.
Keberhasilan gelaran perdana CFD Kedungadem ini menjadi sinyal kuat bahwa kolaborasi masyarakat dan pemuda mampu menghidupkan pusat kota.
Jika konsisten digelar, bukan tak mungkin CFD akan menjadi ikon baru yang memperkuat kebersamaan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi warga Kedungadem. (yin)





