Peristiwa

Baru Lulus Polri, Bripda DP Meninggal Usai Subuh di Asrama Polda Sulawesi Selatan, Keluarga Curiga Ada Penganiayaan

amunisinews001
7884
×

Baru Lulus Polri, Bripda DP Meninggal Usai Subuh di Asrama Polda Sulawesi Selatan, Keluarga Curiga Ada Penganiayaan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260223 WA0009

SULAWESI SELATAN – Suasana duka menyelimuti keluarga Bripda DP (19). Polisi muda yang baru lulus pendidikan itu meninggal dunia di Asrama Polda Sulawesi Selatan dalam kondisi yang memunculkan tanda tanya besar.

Keluarga menduga ada dugaan penganiayaan oleh senior sebelum korban dinyatakan wafat.

Peristiwa itu disebut terjadi pada Minggu pagi, 22 Februari 2026, usai sholat Subuh di sekitar markas Polda Sulawesi Selatan.

Bripda DP merupakan lulusan Polri angkatan 53 tahun 2025 dan baru bertugas di satuan Sabhara.

Kepergiannya yang mendadak membuat keluarga syok, terlebih karena beberapa jam sebelumnya korban masih sempat berkirim pesan dengan ibunya.

Ayah korban, Aipda Muhammad Jabir, mengungkapkan bahwa putranya masih aktif berbalas pesan WhatsApp setelah sahur.

Dalam percakapan itu, Bripda DP meminta dibawakan Nasu Palleko, makanan khas Bugis favoritnya.

Rencananya, makanan tersebut akan diantar ke asrama Ditsamapta dan disantap bersama seniornya.

Pesan itu dikirim sekitar pukul 05.00 WITA. Namun saat ibunya membalas sekitar pukul 06.00 WITA, tidak ada lagi respon dari korban.

Tak hanya soal makanan, keluarga juga berencana mengirim sepeda motor milik korban ke lokasi tugasnya.

Keluarga mulai khawatir ketika telepon dan pesan tak lagi dijawab.

Saat menghubungi rekan-rekannya, mereka hanya mendapat informasi bahwa Bripda DP sedang tidur.

Sekitar pukul 07.00 WITA, keluarga menerima kabar bahwa Bripda DP telah dilarikan ke RSUD Daya dan dinyatakan meninggal dunia.

Informasi awal yang diterima keluarga menyebutkan korban sakit.

Namun pihak keluarga meragukan hal tersebut karena menemukan sejumlah luka lebam di tubuh korban serta darah yang keluar dari mulutnya.

Kondisi itu memunculkan dugaan adanya tindakan kekerasan sebelum korban meninggal.

Proses autopsi telah dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kematian.

Keluarga meminta agar kasus ini ditangani secara transparan dan profesional.

Mereka mendesak Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) untuk turun tangan mengusut dugaan penganiayaan.

Kabid Propam Polda Sulawesi Selatan, Kombes Zulham Efendy, memastikan pihaknya akan menangani kasus ini secara terbuka.

Ia menegaskan bahwa jika ditemukan adanya unsur kekerasan atau pelanggaran, maka proses hukum akan ditegakkan sesuai aturan yang berlaku.

Kasus meninggalnya Bripda DP kini menjadi perhatian publik. Sosok polisi muda yang baru memulai kariernya itu pergi secara mendadak, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga.

Chat terakhir tentang makanan sederhana yang ingin disantap bersama rekan justru menjadi kenangan paling menyayat hati.

Kini keluarga hanya berharap satu hal, kejelasan dan keadilan atas kematian anak mereka. (Tim Sembilan)