Infotaiment

Lebaran di Atas Air, Warga Bojoasri Lamongan Lawan Banjir dengan Bambu

amunisinews001
8841
×

Lebaran di Atas Air, Warga Bojoasri Lamongan Lawan Banjir dengan Bambu

Sebarkan artikel ini
IMG 20260321 WA0013

LAMONGAN – Banjir yang tak kunjung surut selama lima bulan di kawasan Bengawan Jero, tepatnya di Dusun Dondomaman, Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, menjadi potret nyata ketangguhan sekaligus kegelisahan warga.

Sejak November 2025 hingga Maret 2026, air terus menggenangi permukiman tanpa jeda.

Bagi warga, kondisi ini bukan lagi sekedar “genangan” seperti yang kerap disebut, melainkan banjir menetap yang perlahan menggerus ruang hidup mereka.

Air setinggi kurang lebih 30 sentimeter di dalam rumah menjadi pemandangan sehari-hari yang harus dihadapi.

Kepala Dusun setempat, Suparjo, menegaskan bahwa istilah genangan tidak lagi relevan dengan kondisi yang terjadi.

“Ini sudah lima bulan. Sejak November air tidak pernah benar-benar surut. Di dalam rumah saya saja sekitar 30 sentimeter. Ini bukan genangan, ini banjir,” ungkapnya, Jum’at (20/3/2026).

Genangan air yang terus bertahan membuat aktivitas warga lumpuh.

Jalan desa yang dulunya menjadi akses utama kini tertutup air, memaksa warga Lamongan ini mencari cara alternatif untuk beraktivitas.

Rakit bambu menjadi alat transportasi darurat. Air yang mulai berbau menambah beban, sementara ancaman penyakit kulit hingga gangguan kesehatan lainnya terus menghantui.

Menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah, suasana yang biasanya penuh kebahagiaan justru dibayangi keterbatasan.

Silaturahmi bukan lagi perkara jarak, melainkan soal bagaimana menembus genangan air yang tak kunjung pergi.

Di tengah kondisi sulit, warga Dusun Dondomaman, Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, tidak tinggal diam.

Mereka memilih bergerak dengan membangun jembatan bambu darurat secara swadaya.

Tanpa bantuan resmi, tanpa prosedur panjang, dana dikumpulkan dari masyarakat. Tenaga dikerahkan bersama.

Jembatan itu dibangun di atas air yang masih menggenang.
Bagi warga, jembatan tersebut bukan sekedar akses fisik, melainkan simbol harga diri dan solidaritas.

“Kami tidak ingin saat Lebaran tamu harus lewat air. Ini soal menjaga silaturahmi. Kalau menunggu air surut, entah kapan,” ujar Afifuddin, salah satu warga.

Kini, jembatan bambu itu hampir rampung menjadi bukti bahwa kebersamaan mampu mengatasi keterbatasan.

Upaya warga ini mendapat apresiasi dari Wakil Ketua II DPRD Lamongan, Husen. Ia menyebut langkah swadaya tersebut sebagai bentuk nyata mitigasi bencana berbasis masyarakat.

Namun, dirinya juga mengakui bahwa penanganan infrastruktur masih terkendala sistem, terutama terkait transisi anggaran yang memperlambat realisasi program.

“Selama ini fokus masih pada bantuan sosial dan kesehatan. Ke depan, perlu ada alokasi khusus untuk penanganan infrastruktur darurat agar lebih cepat,” jelasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan adanya jarak antara kebutuhan mendesak di lapangan dan proses birokrasi yang berjalan.

Di balik banjir berkepanjangan ini, muncul pertanyaan mendasar dari warga, mengapa saat musim kemarau tidak dimanfaatkan untuk pembenahan.

Normalisasi sungai, pengerukan sedimentasi, hingga perbaikan drainase dinilai belum dilakukan secara maksimal.

Akibatnya, setiap musim hujan datang, banjir kembali menjadi siklus tahunan.

“Kalau saat kering tidak dikerjakan, lalu kapan lagi,” keluh warga.

Kekecewaan warga tak berhenti pada aspek teknis. Sejumlah warga bahkan mulai mempertanyakan keseriusan penanganan banjir yang dianggap berulang tanpa solusi tuntas.

Ada anggapan bahwa kondisi ini terus terjadi tanpa perubahan berarti, bahkan memunculkan kecurigaan soal pola penanganan yang tidak menyentuh akar masalah.

Situasi ini menunjukkan bahwa banjir bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan.

Di tengah segala keterbatasan, warga Bojoasri tetap menunjukkan ketangguhan luar biasa.

Mereka membangun jembatan, menjaga kebersamaan, dan mempertahankan harapan meski hidup di atas air.

Namun pertanyaan besar tetap menggantung, apakah kondisi ini akan terus menjadi siklus, atau ada langkah nyata untuk mengakhirinya.

Banjir mungkin masih bertahan. Tetapi harapan warga akan perubahan juga belum padam.

Dari Bengawan Jero, pesan itu terus mengalir, ini bukan sekedar genangan. Ini adalah realita yang harus segera diselesaikan. (Ded)