Infotaiment

Antisipasi Kemarau 2026, Petani Bojonegoro Diminta Ubah Strategi Panen

amunisinews001
8832
×

Antisipasi Kemarau 2026, Petani Bojonegoro Diminta Ubah Strategi Panen

Sebarkan artikel ini
IMG 20260410 WA0041

BOJONEGORO – Ancaman kemarau panjang mulai diantisipasi serius oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Meski potensi penurunan produksi padi tak bisa dihindari, Bojonegoro tetap percaya diri mampu mempertahankan perannya sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Timur.

Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah mengungkapkan, hasil analisis menunjukkan adanya potensi penurunan produksi padi hingga sekitar 50.000 ton akibat dampak cuaca ekstrem.

Angka tersebut menjadi koreksi dari capaian sebelumnya yang mencapai 864.000 ton.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh membuat pesimistis.

“Kita harus siap menghadapi realitas iklim, tetapi tetap optimis. Bojonegoro diperkirakan masih akan bertahan sebagai produsen padi terbesar kedua di Jawa Timur,” ujarnya.

Tak hanya mengejar kuantitas hasil panen, pemerintah daerah juga mulai mengarahkan perhatian pada peningkatan kesejahteraan petani Bojonegoro.

Salah satu indikator yang ditekankan adalah Nilai Tukar Petani (NTP), yang mencerminkan daya beli dan keuntungan petani.

Wabup mengingatkan agar petani Bojonegoro tidak tergesa-gesa menjual hasil panen dalam bentuk mentah atau melalui sistem tebasan di sawah.

Menurutnya, langkah tersebut kerap membuat petani kehilangan potensi nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Ia mendorong petani untuk mulai mengelola hasil panen secara lebih bijak, baik dengan meningkatkan kualitas gabah maupun menyimpan sebagian hasil sebagai cadangan pangan keluarga.

“Pengolahan pasca panen yang baik akan memberi nilai tambah. Ini penting untuk memperkuat ekonomi petani sekaligus menjaga ketahanan pangan rumah tangga,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, Zaenal Fanani, memaparkan sejumlah strategi konkret untuk mengurangi dampak kekeringan.

Langkah utama yang didorong adalah percepatan masa tanam dengan memanfaatkan sisa kelembapan tanah sebelum musim kering mencapai puncaknya.

Selain itu, optimalisasi sumber air juga dilakukan melalui penggunaan pompa di titik-titik strategis serta pembersihan jaringan irigasi.

Di wilayah dengan keterbatasan air, petani dihimbau menyesuaikan pola tanam agar tetap produktif.

Program perlindungan seperti Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) juga didorong agar petani memiliki jaring pengaman saat gagal panen.

Tak kalah penting, pemerintah desa melalui lumbung pangan didorong aktif menyerap gabah saat panen raya.

Langkah ini dinilai efektif untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani.

Sebagai adaptasi terhadap kondisi cuaca, petani Bojonegoro juga dianjurkan menanam varietas padi yang lebih cepat panen, seperti Cakrabuana dan Gamagora, yang dinilai lebih tahan terhadap kondisi kekeringan.

Dengan berbagai strategi tersebut, Pemkab Bojonegoro berharap sektor pertanian tetap bertahan di tengah tantangan iklim, sekaligus memastikan ketahanan pangan daerah tetap terjaga. (Yin)