LAMONGAN — Air yang seharusnya jadi berkah, kali ini menjelma musibah. Derasnya luapan Bengawan Solo membawa duka ke sejumlah desa di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Mulai dari Babat hingga Kalitengah, rabo (21/5/2025)
ratusan rumah dan fasilitas umum kini tak lagi terlihat jelas tertutup genangan air setinggi lutut hingga pinggang orang dewasa.
Di Kecamatan Laren dan Glagah, jalanan desa berubah menjadi sungai dadakan. Anak-anak tak lagi berlarian di halaman sekolah, karena ruang kelas mereka ikut tergenang. Mushala dan pasar rakyat terpaksa tutup, menyisakan keheningan di tengah kepungan air.
Namun seperti biasa, warga Lamongan tidak menyerah. Mereka tetap bertahan, bergotong-royong mengevakuasi barang, mengamankan ternak, dan berbagi makanan. Bantuan logistik dari BPBD dan Pemkab mulai berdatangan sembako, terpal, hingga makanan siap saji menjadi tumpuan harapan.
Kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Setiap tahun, Bengawan Solo seakan mengingatkan bahwa ia masih punya kuasa. Tapi tahun demi tahun pula, pertanyaan yang sama bergema: Kapan banjir tahunan ini berakhir?
Pakar lingkungan menilai perlunya langkah nyata dan jangka panjang. Bukan sekadar bantuan darurat, tetapi pembangunan kolam retensi, normalisasi sungai, dan penguatan tanggul. Harapan itu tak pernah padam, meski air terus datang.
Lamongan kini bukan hanya menghadapi banjir, tapi juga perjuangan mempertahankan kehidupan dengan penuh daya dan rasa. Di balik air yang meluap, ada kisah tentang ketabahan yang tak pernah surut.(Ded)






