LAMONGAN – Jalan poros Lamongan–Babat, yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi masyarakat, kini menjelma kubangan penderitaan, Kamis (6/11/2025)
Aspal mengelupas, lubang menganga di mana-mana, dan setiap malam kegelapan menelan jalan raya karena lampu penerangan jalan (PJU) mati total.
Dari Desa Kebonsari (Sukodadi) hingga Desa Paji dan Warukulon (Pucuk), jalan poros itu tak lagi layak disebut jalan lebih mirip jalur off-road yang hanya cocok untuk kendaraan perang.
Saat hujan, ia berubah menjadi lautan lumpur; ketika panas, debu mengepul seperti kabut neraka yang menutup pandangan pengendara.
“Setiap malam ada saja yang jatuh. Jalannya bolong semua, lampu mati, pemerintah datang cuma nambal asal-asalan. Besoknya rusak lagi,” keluh seorang warga Desa Paji dengan wajah lelah.
Tak terhitung berapa kali laporan dan keluhan disampaikan. Tapi pemerintah daerah tampak lebih sibuk rapat dan berpose di media sosial ketimbang turun ke jalan melihat penderitaan rakyatnya sendiri.
Dinas PU dan Dishub Lamongan seakan menutup mata, menutup telinga, bahkan menutup hati seolah semua ini bukan tanggung jawab mereka.
Ironisnya, para pejabat di podium kerap bicara manis soal pembangunan berkelanjutan dan pelayanan prima, namun realitanya rakyat hanya mendapat jalan bopeng dan janji kosong.
“Kami sudah bosan dengan janji tambal-sulam. Kalau pemerintah terus tidur, kami akan lapor ke Gubernur, Kementerian PUPR, bahkan ke Presiden Prabowo!” ancam seorang tokoh masyarakat dengan suara lantang.
Warga menilai sikap pemerintah daerah bukan sekadar lalai, tapi abdi publik yang kehilangan rasa malu.
Bagaimana tidak, Jalan poros yang seharusnya menghubungkan denyut ekonomi justru kini menjadi jalur maut dan simbol kebangkrutan nurani birokrasi.
Setiap hari, pengendara bertaruh nyawa melewati lubang-lubang dalam yang siap menjerat ban motor.
Ketika malam tiba, tak ada cahaya, tak ada petugas, hanya kegelapan dan ketakutan.
Lamongan yang digembar-gemborkan sebagai kota “berkemajuan” kini menghadirkan pemandangan muram: jalan hancur, pejabat diam, rakyat terjerembab dalam debu dan lumpur.
Jika keadaan ini terus dibiarkan, bukan mustahil jalan poros Lamongan–Babat akan dikenang bukan sebagai jalur ekonomi, melainkan sebagai kuburan bagi pengendara dan monumen kelalaian pemerintah daerah.(ded)
Jalan Poros Lamongan–Babat Hancur Total,Pemerintah Daerah Tidur Nyenyak Di Atas Derita Rakyat






