Daerah

‎Jalan Poros Lamongan–Babat Hancur Total,Pemerintah Daerah Tidur Nyenyak Di Atas Derita Rakyat

orbitnasional333
560
×

‎Jalan Poros Lamongan–Babat Hancur Total,Pemerintah Daerah Tidur Nyenyak Di Atas Derita Rakyat

Sebarkan artikel ini
Img 20251106 wa0094

LAMONGAN – Jalan poros Lamongan–Babat, yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi masyarakat, kini menjelma kubangan penderitaan, Kamis (6/11/2025)

‎Aspal mengelupas, lubang menganga di mana-mana, dan setiap malam kegelapan menelan jalan raya karena lampu penerangan jalan (PJU) mati total.

‎Dari Desa Kebonsari (Sukodadi) hingga Desa Paji dan Warukulon (Pucuk), jalan poros itu tak lagi layak disebut jalan lebih mirip jalur off-road yang hanya cocok untuk kendaraan perang.

‎Saat hujan, ia berubah menjadi lautan lumpur; ketika panas, debu mengepul seperti kabut neraka yang menutup pandangan pengendara.

‎“Setiap malam ada saja yang jatuh. Jalannya bolong semua, lampu mati, pemerintah datang cuma nambal asal-asalan. Besoknya rusak lagi,” keluh seorang warga Desa Paji dengan wajah lelah.

‎Tak terhitung berapa kali laporan dan keluhan disampaikan. Tapi pemerintah daerah tampak lebih sibuk rapat dan berpose di media sosial ketimbang turun ke jalan melihat penderitaan rakyatnya sendiri.

‎Dinas PU dan Dishub Lamongan seakan menutup mata, menutup telinga, bahkan menutup hati seolah semua ini bukan tanggung jawab mereka.

‎Ironisnya, para pejabat di podium kerap bicara manis soal pembangunan berkelanjutan dan pelayanan prima, namun realitanya rakyat hanya mendapat jalan bopeng dan janji kosong.

‎“Kami sudah bosan dengan janji tambal-sulam. Kalau pemerintah terus tidur, kami akan lapor ke Gubernur, Kementerian PUPR, bahkan ke Presiden Prabowo!” ancam seorang tokoh masyarakat dengan suara lantang.

‎Warga menilai sikap pemerintah daerah bukan sekadar lalai, tapi abdi publik yang kehilangan rasa malu.

‎Bagaimana tidak, Jalan poros yang seharusnya menghubungkan denyut ekonomi justru kini menjadi jalur maut dan simbol kebangkrutan nurani birokrasi.

‎Setiap hari, pengendara bertaruh nyawa melewati lubang-lubang dalam yang siap menjerat ban motor.

‎Ketika malam tiba, tak ada cahaya, tak ada petugas, hanya kegelapan dan ketakutan.

‎Lamongan yang digembar-gemborkan sebagai kota “berkemajuan” kini menghadirkan pemandangan muram: jalan hancur, pejabat diam, rakyat terjerembab dalam debu dan lumpur.

‎Jika keadaan ini terus dibiarkan, bukan mustahil jalan poros Lamongan–Babat akan dikenang bukan sebagai jalur ekonomi, melainkan sebagai kuburan bagi pengendara dan monumen kelalaian pemerintah daerah.(ded)