BOJONEGORO – Aksi nyata ditunjukkan warga Desa Mori, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro.
Tanpa menunggu bantuan Pemerintah Bojonegoro, mereka bergerak memperbaiki jalan rusak penghubung Desa Guyangan–Mori yang sebelumnya viral karena kondisinya memprihatinkan.
Ruas jalan sepanjang kurang lebih 500 meter di wilayah kecamatan yang dekat Kota Bojonegoro itu sempat menjadi keluhan utama masyarakat.
Lumpur tebal, genangan air, serta lubang di sejumlah titik membuat akses tersebut nyaris tak layak dilalui, terutama saat musim hujan.
Tak sedikit pengendara sepeda motor yang tergelincir. Aktivitas warga Bojonegoro pun terganggu, mulai dari berangkat kerja, distribusi hasil pertanian, hingga anak-anak yang hendak berangkat sekolah.
Perubahan mulai terlihat dalam beberapa hari terakhir. Permukaan jalan kini lebih padat dan tidak lagi berlumpur seperti sebelumnya.
Namun, perbaikan ini bukan berasal dari proyek pembangunan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Inisiatif datang dari seorang warga Desa Mori berinisial A yang secara pribadi melakukan pengurukan menggunakan material pedel (batu kecil).
Material tersebut diratakan di sejumlah titik yang sebelumnya berlubang dan berlumpur parah.
Langkah sederhana namun berdampak besar ini langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro.
“Sekarang jauh lebih enak dilewati. Dulu kalau habis hujan sangat susah, licin dan berbahaya,” ungkap salah satu warga.
Jalan penghubung Mori–Guyangan bukan sekedar akses biasa.
Jalur ini menjadi urat nadi aktivitas warga dua desa. Setiap hari dilalui petani membawa hasil panen, pekerja menuju tempat kerja, hingga anak-anak sekolah.
Karena perannya yang vital, kerusakan jalan sempat memicu keluhan luas di media sosial. Warga berharap ada solusi cepat agar akses desa tidak terus terhambat.
Aksi swadaya ini pun mendapat apresiasi. Masyarakat menilai langkah tersebut mencerminkan kuatnya semangat gotong royong yang masih hidup di tengah desa Bojonegoro.
Meski kondisi kini lebih baik, warga menyadari perbaikan dengan pedel hanya bersifat sementara.
Saat curah hujan tinggi, risiko kerusakan kembali tetap ada.
Masyarakat pun berharap Pemerintah Kabupaten Bojonegoro segera turun tangan melakukan pembangunan permanen.
Mereka mengusulkan pengecoran rigid beton seperti ruas jalan di sisi sebelahnya yang sudah lebih dulu dibangun dan terbukti lebih kokoh serta tahan lama.
Dengan pembangunan maksimal, warga optimistis akses antar desa akan semakin aman, nyaman, dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Aksi swadaya warga Mori ini menjadi pesan kuat: ketika infrastruktur belum tersentuh anggaran, solidaritas masyarakatlah yang lebih dulu bergerak. (yin)






