Kuliner

Kolak Ayam Legendaris dari Gresik, Tradisi Sanggring 501 Tahun Bikin Ribuan Warga Antusias

amunisinews001
8788
×

Kolak Ayam Legendaris dari Gresik, Tradisi Sanggring 501 Tahun Bikin Ribuan Warga Antusias

Sebarkan artikel ini
IMG 20260314 WA0025

GRESIK – Suasana Ramadan di Kabupaten Gresik kembali semarak dengan digelarnya tradisi Sanggring atau Kolak Ayam yang telah berlangsung selama lebih dari lima abad.

Tahun ini, tradisi legendaris tersebut memasuki usia ke-501 dan kembali digelar meriah oleh warga Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.

Kegiatan yang dipusatkan di halaman Masjid Jami’ Sunan Dalem Desa Gumeno pada Kamis (12/3/2026) itu disambut antusias masyarakat Gresik.

Panitia menyiapkan sekitar 3.000 porsi kolak ayam yang dibagikan kepada warga Gresik dan para pengunjung untuk disantap saat berbuka puasa.

Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Desa Gumeno yang tetap menjaga dan melestarikan tradisi warisan leluhur tersebut.

Menurutnya, Sanggring kolak ayam bukan sekedar kuliner khas, tetapi juga merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat.

Bahkan, kuliner ini telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia.

“Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang berasal dari Sunan Dalem, putra Sunan Giri. Sanggring menjadi simbol identitas masyarakat Gumeno yang diwariskan secara turun-temurun,” ujar Alif.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga tradisi tersebut di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, generasi muda Gresik tidak hanya perlu menikmati kuliner khas tersebut, tetapi juga memahami nilai sejarah di balik tradisi yang telah bertahan selama ratusan tahun.

“Di tengah arus modernisasi, tradisi ini harus menjadi alarm budaya. Jangan sampai generasi muda hanya menikmati hidangannya, tetapi lupa sejarahnya,” tegasnya.

Ketua panitia Sanggring kolak ayam, Didik Wahyudi, menjelaskan bahwa untuk perayaan tahun ini pihaknya menyiapkan bahan dalam jumlah besar demi melayani masyarakat yang datang.

Panitia menggunakan 240 ekor ayam kampung, 225 kilogram bawang daun, 525 butir kelapa, 650 kilogram gula merah, serta 50 kilogram jinten bubuk untuk memasak kolak ayam dalam jumlah ribuan porsi.

Menurut Didik, keunikan tradisi Sanggring tidak hanya terletak pada menu kolak ayam yang jarang ditemukan di daerah lain, tetapi juga pada proses pembuatannya.

Seluruh proses memasak hingga penyajian dilakukan oleh kaum laki-laki sebagai bagian dari tradisi yang telah dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Gumeno, Gresik.

“Proses memasaknya memang menjadi bagian penting dari tradisi ini. Semua tahapan dilakukan oleh laki-laki, mulai dari memasak hingga menyajikan kolak ayam kepada masyarakat,” jelasnya.

Kolak ayam Sanggring memiliki cita rasa khas karena memadukan ayam kampung dengan santan, gula merah, jinten, serta bawang daun.

Kombinasi bahan tersebut menghasilkan rasa gurih sekaligus manis yang menjadi ciri khas kuliner tradisional di Gresik ini.

Didik berharap tradisi yang telah berlangsung lebih dari lima abad ini dapat terus dilestarikan dan semakin dikenal luas oleh masyarakat, tidak hanya di Gresik tetapi juga di berbagai daerah lainnya.

Tradisi Sanggring kolak ayam pun kembali membuktikan bahwa warisan budaya lokal Gresik mampu tetap hidup dan menjadi kebanggaan masyarakat hingga ratusan tahun lamanya. (az)