Daerah

Program Gayatri: Dari 54 Ayam Warga Bojonegoro Ini Kantongi Rp60 Ribu per Hari

amunisinews001
8744
×

Program Gayatri: Dari 54 Ayam Warga Bojonegoro Ini Kantongi Rp60 Ribu per Hari

Sebarkan artikel ini
Screenshot 20260218 235109 copy 1280x787

BOJONEGORO – Program GAYATRI (Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri) yang digulirkan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Peternakan dan Perikanan terbukti bukan sekedar bantuan ternak biasa.

Program ini menjadi motor penggerak ekonomi keluarga Bojonegoro yang ada di desa, bahkan mampu memberikan pemasukan rutin setiap hari bagi penerima manfaat.

Salah satu kisah sukses datang dari Ambar (27), warga Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro.

Ia menjadi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) program GAYATRI pada September 2025 dengan menerima bantuan 54 ekor ayam petelur.

Tak butuh waktu lama, ayam-ayam tersebut mulai berproduksi pada Oktober 2025.

Kini, hampir seluruh ayam yang dipeliharanya rutin bertelur setiap hari.

“Alhamdulillah, rata-rata setiap hari 52 sampai 54 butir telur. Memang waktunya tidak bersamaan, ada yang sedikit telat, tapi hampir semuanya produktif,” ungkap Ambar.

Dari kandang sederhana di rumahnya, Ambar mampu menghasilkan sekitar 52–54 butir telur per hari atau setara kurang lebih 2,5 kilogram.

Telur-telur tersebut kemudian disetorkan ke BUMDes setempat untuk dipasarkan.

Dengan harga jual rata-rata Rp25.000 per kilogram, Ambar kini bisa mengantongi tambahan pendapatan sekitar Rp62.500 hingga Rp63.000 per hari.

Jika ditotal dalam sebulan, penghasilan dari telur ayam ini bisa menembus hampir Rp2 juta.

Bagi keluarga skala desa, angka tersebut tentu sangat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus menjadi sumber pendapatan berkelanjutan.

Program GAYATRI dirancang bukan hanya sebagai bantuan sosial, tetapi sebagai strategi jangka panjang membangun kemandirian ekonomi masyarakat Bojonegoro berbasis peternakan rakyat.

Melalui budidaya ayam petelur skala keluarga, warga tidak hanya memperoleh tambahan penghasilan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan rumah tangga.

Ketersediaan telur sebagai sumber protein pun lebih terjamin.

Model pemasaran melalui BUMDes juga menjadi kunci agar hasil produksi warga terserap pasar dengan baik, sekaligus memperkuat ekonomi desa secara kolektif.

Program ini membuktikan bahwa intervensi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang tepat sasaran dapat menciptakan efek berantai yaitu, ekonomi bergerak, ketahanan pangan meningkat, dan masyarakat desa semakin mandiri. (yin)