Daerah

Strategi Cerdas Petani Ngraho Bojonegoro, Tanah Subur Tanpa Bakar Jerami

amunisinews001
6830
×

Strategi Cerdas Petani Ngraho Bojonegoro, Tanah Subur Tanpa Bakar Jerami

Sebarkan artikel ini
IMG 20260215 WA0002

BOJONEGORO – Langkah cerdas ditunjukkan Kelompok Tani Setyo Budi Utomo Desa Luwihaji, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro.

Demi meningkatkan efisiensi pertanian sekaligus menjaga kesuburan tanah, para petani kini memproduksi dekomposer cair secara mandiri.

Kegiatan ini mendapat pendampingan langsung dari petugas lapangan Pendamping Pengukuhan Pertanian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro.

Pendampingan dilakukan untuk memastikan proses fermentasi berjalan optimal dan menghasilkan mikroba yang efektif dalam mengurai bahan organik.

Moch. Minan, PPL DKPP Bojonegoro, menjelaskan bahwa dekomposer cair tersebut dimanfaatkan untuk mempercepat proses penguraian sisa tanaman, terutama jerami padi yang biasanya menumpuk di lahan usai panen.

“Dengan dekomposer ini, jerami tidak perlu dibakar. Proses pembusukan menjadi lebih cepat, unsur hara kembali ke tanah, dan risiko hama penyakit dari sisa tanaman bisa ditekan,” jelasnya.

Efisiensi Biaya hingga Percepatan Tanam
Inovasi ini bukan hanya soal ramah lingkungan. Ada dampak ekonomi nyata yang dirasakan petani.

Pertama, petani bisa memangkas biaya produksi karena tidak lagi bergantung pada produk kimia pabrikan yang harganya kerap naik turun.

Kedua, populasi mikroorganisme baik di dalam tanah meningkat sehingga struktur tanah menjadi lebih gembur dan subur secara alami.

Tak kalah penting, lahan menjadi lebih cepat siap tanam. Jika sebelumnya jerami membutuhkan waktu lama untuk terurai, kini prosesnya bisa dipercepat. Artinya, jadwal tanam berikutnya tidak lagi tertunda.

“Ini sebenarnya investasi jangka panjang. Saat bahan organik dikembalikan ke tanah, kita sedang menabung kesuburan untuk musim-musim tanam berikutnya,” tegas Minan.

Praktik pembuatan dekomposer mandiri ini diharapkan menjadi contoh bagi petani lain di Kecamatan Ngraho, bahkan wilayah Bojonegoro secara luas.

Penerapan teknologi hayati di tingkat desa menjadi fondasi penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Dengan tanah yang sehat, produktivitas meningkat, biaya menurun, dan lingkungan tetap terjaga.

Dari lahan-lahan sawah di Luwihaji, semangat pertanian berkelanjutan kini mulai tumbuh semakin kuat. (yin)