LAMONGAN – Terik mentari belum juga surut, namun semangat para peternak ayam broiler di Lamongan justru kian membara.
Ratusan orang berkumpul di depan kantor Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lamongan, Rabu (1/10/2025).
menuntut satu hal yang selama ini mereka rasa diabaikan: keadilan dalam pengawasan usaha peternakan.
Dengan spanduk, poster, dan suara lantang, mereka menyuarakan keresahan yang selama ini dipendam penolakan terhadap sidak (inspeksi mendadak) yang dilakukan tanpa surat tugas resmi.
”Kami Diperiksa Seperti Tersangka, Padahal Kami yang Memberi Makan Negeri Ini”
Itulah salah satu tulisan yang terbentang dalam aksi damai tersebut. Para peternak merasa selama ini mereka tak diperlakukan sebagai mitra pembangunan, melainkan seperti pihak yang selalu dicurigai.
”Bayangkan, tiba-tiba ada orang datang ke kandang, mengaku petugas, tapi tak bisa menunjukkan surat tugas. Kami takut. Kami khawatir. Kami rugi,” ujar Sugeng, peternak asal Karangbinangun, dengan suara bergetar.
Menurutnya, ayam broiler sangat sensitif terhadap gangguan. Ketika kandang dimasuki orang asing tanpa prosedur, ayam bisa stres, bahkan mati,Ini bukan soal emosi semata, tetapi juga menyangkut kerugian nyata.
Dalam orasi yang berlangsung tertib, para peternak menyampaikan tiga tuntutan utama:
1. Hentikan semua bentuk sidak tanpa surat tugas.
2. Tegakkan aturan yang adil, transparan, dan menghormati prosedur.
3. Libatkan peternak dalam setiap penyusunan kebijakan yang menyangkut usaha mereka.
”Kami bukan menolak pengawasan. Tapi kami ingin pengawasan itu dilakukan dengan benar, sesuai aturan, dan tetap menghormati kami sebagai pelaku usaha yang sah,” tegas Rahmawati, satu-satunya peternak perempuan yang ikut berorasi.
Tak lama setelah aksi berlangsung, perwakilan dari Dinas Peternakan menemui massa.
Melalui juru bicaranya, pemerintah menyatakan siap menampung aspirasi dan akan menjadwalkan audiensi resmi.
”Kami berterima kasih atas masukan yang disampaikan. Evaluasi akan kami lakukan bersama, demi menciptakan iklim usaha peternakan yang sehat dan adil,” ucapnya singkat.
Aksi ini bukan sekadar bentuk protes. Ia adalah simbol perjuangan para peternak kecil yang merasa hak dan martabatnya terganggu.
Mereka datang bukan dengan amarah, melainkan dengan harapan: agar mereka tidak lagi diperlakukan seperti pihak yang patut dicurigai.
Di tengah himpitan harga pakan yang terus naik, fluktuasi pasar yang tak menentu, dan tekanan biaya operasional, para peternak hanya ingin satu hal: keadilan yang bermartabat.
”Kami ini peternak rakyat. Kami bukan lawan, tapi teman pemerintah membangun negeri.” Salah satu peserta aksi. (ded)
Suara Peternak Ayam Broiler Menggema Di Lamongan Tolak Sidak Tanpa Surat Tugas






