Peristiwa

‎Suara Peternak Ayam Broiler Menggema Di Lamongan Tolak Sidak Tanpa Surat Tugas

3985
×

‎Suara Peternak Ayam Broiler Menggema Di Lamongan Tolak Sidak Tanpa Surat Tugas

Sebarkan artikel ini
Img 20251001 wa0062

LAMONGAN – Terik mentari belum juga surut, namun semangat para peternak ayam broiler di Lamongan justru kian membara.

‎Ratusan orang berkumpul di depan kantor Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lamongan, Rabu (1/10/2025).

‎menuntut satu hal yang selama ini mereka rasa diabaikan: keadilan dalam pengawasan usaha peternakan.

‎Dengan spanduk, poster, dan suara lantang, mereka menyuarakan keresahan yang selama ini dipendam penolakan terhadap sidak (inspeksi mendadak) yang dilakukan tanpa surat tugas resmi.

‎”Kami Diperiksa Seperti Tersangka, Padahal Kami yang Memberi Makan Negeri Ini”

‎Itulah salah satu tulisan yang terbentang dalam aksi damai tersebut. Para peternak merasa selama ini mereka tak diperlakukan sebagai mitra pembangunan, melainkan seperti pihak yang selalu dicurigai.

‎”Bayangkan, tiba-tiba ada orang datang ke kandang, mengaku petugas, tapi tak bisa menunjukkan surat tugas. Kami takut. Kami khawatir. Kami rugi,” ujar Sugeng, peternak asal Karangbinangun, dengan suara bergetar.

‎Menurutnya, ayam broiler sangat sensitif terhadap gangguan. Ketika kandang dimasuki orang asing tanpa prosedur, ayam bisa stres, bahkan mati,Ini bukan soal emosi semata, tetapi juga menyangkut kerugian nyata.

‎Dalam orasi yang berlangsung tertib, para peternak menyampaikan tiga tuntutan utama:

‎1. Hentikan semua bentuk sidak tanpa surat tugas.

‎2. Tegakkan aturan yang adil, transparan, dan menghormati prosedur.

‎3. Libatkan peternak dalam setiap penyusunan kebijakan yang menyangkut usaha mereka.

‎”Kami bukan menolak pengawasan. Tapi kami ingin pengawasan itu dilakukan dengan benar, sesuai aturan, dan tetap menghormati kami sebagai pelaku usaha yang sah,” tegas Rahmawati, satu-satunya peternak perempuan yang ikut berorasi.

‎Tak lama setelah aksi berlangsung, perwakilan dari Dinas Peternakan menemui massa.

‎Melalui juru bicaranya, pemerintah menyatakan siap menampung aspirasi dan akan menjadwalkan audiensi resmi.

‎”Kami berterima kasih atas masukan yang disampaikan. Evaluasi akan kami lakukan bersama, demi menciptakan iklim usaha peternakan yang sehat dan adil,” ucapnya singkat.

‎Aksi ini bukan sekadar bentuk protes. Ia adalah simbol perjuangan para peternak kecil yang merasa hak dan martabatnya terganggu.

‎Mereka datang bukan dengan amarah, melainkan dengan harapan: agar mereka tidak lagi diperlakukan seperti pihak yang patut dicurigai.

‎Di tengah himpitan harga pakan yang terus naik, fluktuasi pasar yang tak menentu, dan tekanan biaya operasional, para peternak hanya ingin satu hal: keadilan yang bermartabat.

‎”Kami ini peternak rakyat. Kami bukan lawan, tapi teman pemerintah membangun negeri.” Salah satu peserta aksi. (ded)