Infotaiment

Tak Cuma Teknologi, Doa Jadi Kunci Petani Bojonegoro Lawan Krisis Iklim

amunisinews001
8289
×

Tak Cuma Teknologi, Doa Jadi Kunci Petani Bojonegoro Lawan Krisis Iklim

Sebarkan artikel ini
IMG 20260424 WA0044

BOJONEGORO – Ancaman perubahan iklim seperti El Nino serta menyusutnya luas baku sawah nasional tidak membuat Pemerintah Kabupaten Bojonegoro tinggal diam.

Langkah cepat langsung diambil melalui partisipasi aktif dalam Gerakan Percepatan Tanam Serempak se-Jawa Timur, Kamis (23/04/2026).

Kegiatan yang dipusatkan di area persawahan Desa Kapas, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro ini menjadi momentum penting dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.

Aksi tanam padi melibatkan Kelompok Tani Bakti Makmur, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, unsur TNI, hingga Polri.

Gerakan ini bagian dari upaya besar 38 kabupaten/kota di Jawa Timur dalam mengejar target luas tanam padi nasional yang dipatok mencapai 2,8 juta hektare pada tahun 2026.

Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Kementerian Pertanian RI, Yuris Tiyanto, menegaskan bahwa tantangan sektor pertanian saat ini tidak lagi hanya soal membuka lahan baru.

Menurutnya, fokus utama kini adalah meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) serta produktivitas hasil panen.

Hal ini menjadi semakin penting mengingat luas baku sawah di Jawa Timur tercatat mengalami penurunan hingga sekitar 1.068.000 hektare.

Untuk menjawab tantangan tersebut, sejumlah strategi mulai digencarkan.

Mulai dari penguatan koordinasi dengan Brigada Alsintan dan Balai Wilayah Sungai (BWS) guna memastikan ketersediaan pompa air saat puncak krisis air pada Juli hingga Agustus 2026.

Selain itu, inovasi seperti program listrik masuk sawah (Electricity for Farming) hingga pemanfaatan sumur dalam terus didorong untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap bahan bakar solar.

Tidak hanya itu, pendekatan ramah lingkungan juga menjadi fokus melalui penerapan Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB).

Salah satu langkah menarik adalah pemanfaatan musuh alami seperti burung hantu sebagai pengendali hama tikus, yang dinilai lebih efektif dan berkelanjutan.

Menariknya, gerakan tanam serempak ini juga menghadirkan sentuhan berbeda.

Lewat konsep “Sawah Bersolawat” dan program “Ngaji Tani”, para petani diajak menguatkan sisi spiritual dengan doa dan selawat di tengah aktivitas pertanian.

Pendekatan ini diyakini mampu menumbuhkan ketenangan batin sekaligus optimisme petani dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim hingga ketidakpastian hasil panen.

“Gerakan percepatan tanam ini menjadi bukti bahwa Jawa Timur tetap tangguh sebagai produsen padi terbesar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Yuris.

Kolaborasi solid antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan para petani menjadi kunci utama.

Dengan sinergi ini, Bojonegoro optimistis mampu mempertahankan perannya sebagai salah satu lumbung pangan yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan di tengah tekanan global. (Yin)