KOTA BATU – Nama Kota Batu selama ini identik dengan udara sejuk pegunungan, panorama alam yang memikat, dan beragam destinasi wisata modern yang menjadi favorit keluarga.
Namun di balik pesatnya perkembangan sektor pariwisata tersebut, kota ini masih menyimpan kekayaan budaya yang terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu warisan budaya yang tetap terjaga hingga kini berada di kawasan wisata Songgoriti.
Wilayah yang dikenal sebagai destinasi wisata legendaris itu tak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menjadi pusat pelestarian tradisi yang sarat nilai sejarah dan spiritual.
Memasuki bulan Suro dalam kalender Jawa, masyarakat Songgoriti kembali bersiap menggelar ritual budaya tahunan bertajuk Ngarak Banteng 1 Suro Empu Supo XVIII, sebuah perhelatan adat yang telah menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat.
Humas Paguyuban Sanggar Empu Supo, Ahmad Choirul, mengatakan bahwa kegiatan tersebut bentuk komitmen masyarakat dalam menjaga warisan leluhur di tengah derasnya arus modernisasi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Kota Batu tidak hanya memiliki wisata alam dan wahana modern. Budaya lokal yang kami miliki juga merupakan kekuatan besar yang harus terus dijaga dan diperkenalkan kepada masyarakat luas,” ujarnya, Sabtu (30/5/2026).
Tradisi Ngarak Banteng Empu Supo telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi momentum penting bagi masyarakat Songgoriti untuk mengenang jasa para leluhur sekaligus mempererat hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Nama Empu Supo sendiri memiliki keterkaitan erat dengan sejarah kawasan Songgoriti yang menyimpan berbagai peninggalan bersejarah, termasuk keberadaan Candi Songgoriti yang dikenal sebagai salah satu situs penting peninggalan masa lampau.
Nilai-nilai sejarah tersebut kemudian dipadukan dengan seni bantengan, ritual adat, serta semangat kebersamaan masyarakat dalam sebuah perayaan budaya yang unik dan penuh makna.
Tahun ini menjadi penyelenggaraan ke-18, menandai konsistensi masyarakat dalam menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Panitia menjadwalkan kegiatan tersebut pada hari Senin Kliwon, tanggal 22 Juni 2016, pukul 09.00 Wib hingga selesai, lokasi di Kawasan Wisata Songgoriti hingga area depan Candi Songgoriti, Kota Batu.
Sepanjang perjalanan kirab, masyarakat dan wisatawan akan disuguhkan berbagai atraksi budaya, iringan musik tradisional, hingga prosesi adat yang menghadirkan suasana sakral sekaligus meriah.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Paguyuban Sanggar Empu Supo mengangkat tema “Manggalaning Gwaya Purna Udaya”.
Tema tersebut mengandung harapan akan lahirnya semangat baru menuju kemajuan, kesejahteraan, dan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat.
Tema tersebut juga menjadi pengingat bahwa tradisi memiliki peran penting dalam membangun karakter masyarakat dan menjaga identitas daerah.
Kebudayaan tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga fondasi untuk menghadapi masa depan tanpa kehilangan jati diri.
Bagi masyarakat Songgoriti, bulan Suro selalu menjadi momen istimewa.
Berbagai kegiatan adat dan budaya digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah yang diterima sepanjang tahun.
Mulai dari kirab budaya, doa bersama, pertunjukan seni bantengan, pencak silat, hingga ritual adat lainnya menjadi bagian dari rangkaian acara yang selalu dinantikan.
Keberadaan Ngarak Banteng Empu Supo juga memperlihatkan bahwa Kota Batu memiliki potensi besar dalam sektor wisata budaya.
Selain menawarkan pengalaman wisata yang berbeda, tradisi ini menyimpan nilai sejarah, sosial, dan spiritual yang kuat sehingga berpeluang menjadi daya tarik budaya unggulan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Karena itu, panitia mengajak seluruh masyarakat, pegiat seni budaya, komunitas pelestari tradisi, hingga wisatawan dari berbagai daerah untuk hadir dan menyaksikan langsung kemeriahan Ngarak Banteng 1 Suro Empu Supo XVIII di Songgoriti.
Melalui perhelatan ini, masyarakat berharap warisan budaya leluhur tetap terjaga, semakin dikenal luas, serta mampu menjadi kebanggaan Kota Batu yang terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya. (Fur)






