Daerah

BPS Ungkap Rahasia Ekonomi Bojonegoro Tetap Positif Meski Migas Melemah

amunisinews001
7844
×

BPS Ungkap Rahasia Ekonomi Bojonegoro Tetap Positif Meski Migas Melemah

Sebarkan artikel ini
IMG 20260609 WA0013

BOJONEGORO – Suasana berbeda terlihat di ruang kerja Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah pada Senin (8/6/2026).

Ruangan yang biasanya digunakan untuk aktivitas pemerintahan itu berubah menjadi forum diskusi bertajuk Membaca Bojonegoro dalam Angka yang menghadirkan Badan Pusat Statistik (BPS), sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta kalangan jurnalis.

Dalam forum tersebut, berbagai data ekonomi daerah dibedah secara terbuka.

Salah satu fokus utama yang menjadi perhatian adalah perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), indikator yang digunakan untuk mengukur nilai keseluruhan barang dan jasa yang dihasilkan suatu daerah dalam periode tertentu.

Dari hasil pemaparan, perekonomian Bojonegoro masih menghadapi tantangan akibat menurunnya kinerja sektor pertambangan dan penggalian, terutama karena berkurangnya lifting minyak dan gas bumi (migas).

Padahal, sektor ini selama bertahun-tahun menjadi kontributor terbesar bagi struktur ekonomi Kabupaten Bojonegoro.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat pertumbuhan ekonomi daerah terpuruk.

Sejumlah sektor nonmigas justru menunjukkan performa yang cukup menggembirakan dan mampu menjaga laju pertumbuhan ekonomi tetap berada di jalur positif.

Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bojonegoro pada Triwulan I Tahun 2026 secara year on year (y-on-y) tercatat tumbuh sebesar 0,02 persen.

Angka tersebut dinilai lebih baik dibandingkan kondisi tahun 2023 yang sempat mengalami kontraksi hingga minus 3,49 persen.

Menurutnya, sektor pertambangan memang masih mengalami penurunan cukup dalam dengan pertumbuhan minus 8,78 persen.

Namun di sisi lain, sektor pertanian justru mencatat lonjakan pertumbuhan hingga 11,38 persen.

“Meski sektor pertambangan mengalami penurunan, sektor pertanian menunjukkan pertumbuhan yang sangat baik. Ini menjadi bukti bahwa sektor nonmigas mampu memberikan kontribusi penting terhadap perekonomian daerah,” jelas Nurul Azizah.

Ia menambahkan, keberhasilan sektor pertanian tidak terlepas dari berbagai program pemerintah daerah yang selama ini difokuskan pada peningkatan produktivitas pertanian, penguatan layanan kesehatan, dan pembangunan sektor pendidikan.

Selain melihat perkembangan ekonomi daerah secara internal, Nurul Azizah juga memaparkan posisi Bojonegoro dalam kawasan Gerbangkertosusila Plus (G+).

Dari sembilan daerah yang masuk dalam kawasan tersebut, Bojonegoro berada di posisi kesembilan dengan kontribusi sebesar 3,20 persen terhadap perekonomian Jawa Timur.

Sementara itu, Kepala BPS Kabupaten Bojonegoro Syawaluddin Siregar menegaskan bahwa secara keseluruhan perekonomian Bojonegoro masih tumbuh positif berkat kinerja sektor pertanian yang sangat kuat.

Menurutnya, sekitar 46 persen struktur ekonomi Bojonegoro masih bergantung pada sektor pertambangan.

Karena itu, ketika produksi migas mengalami penurunan, dampaknya langsung terasa terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

“Pertanian tumbuh hingga 11,38 persen. Pertumbuhan yang tinggi ini menjadi faktor penting yang menahan laju ekonomi agar tidak kembali masuk ke zona negatif saat sektor pertambangan mengalami kontraksi,” ungkap Syawaluddin.

Ia menjelaskan bahwa pengalaman tahun 2023 menjadi pelajaran penting. Saat itu, pertumbuhan ekonomi Bojonegoro sempat mengalami kontraksi akibat menurunnya aktivitas sektor migas.

Namun kondisi tahun 2026 menunjukkan gambaran berbeda karena sektor pertanian mampu tampil sebagai penopang utama.

Lebih lanjut, Syawaluddin menilai bahwa pertumbuhan ekonomi idealnya tidak hanya bergantung pada satu sektor saja.

Pertumbuhan yang sehat harus bersifat inklusif, memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh lapisan masyarakat untuk ikut merasakan manfaat pembangunan ekonomi.

“Pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Bojonegoro karena melibatkan banyak warga secara langsung. Berbeda dengan sektor pertambangan yang kontribusinya besar, tetapi manfaat ekonominya tidak selalu dirasakan secara merata oleh masyarakat,” pungkasnya.

Diskusi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa diversifikasi ekonomiqi menjadi langkah penting bagi Bojonegoro ke denpan.

Ketika sektor migas menghadapi tekanan, sektor-sektor lain seperti pertanian, pendidikan, kesehatan, perdagangan, hingga pariwisata dapat menjadi penyangga yang menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi daerah. (yin)