Daerah

Pertanian Jadi Penyelamat, Ekonomi Bojonegoro Kembali Positif

amunisinews001
8845
×

Pertanian Jadi Penyelamat, Ekonomi Bojonegoro Kembali Positif

Sebarkan artikel ini
IMG 20260610 WA0008

BOJONEGORO – Ketergantungan pada sektor minyak dan gas bumi (migas) perlahan mulai berkurang. Di tengah tren penurunan produksi migas yang terjadi secara nasional, Kabupaten Bojonegoro justru mampu menjaga pertumbuhan ekonominya tetap berada di jalur positif pada Triwulan I Tahun 2026.

Data terbaru menunjukkan perekonomian Bojonegoro tumbuh sebesar 0,02 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y).

Angka tersebut memang terbilang tipis, namun memiliki arti penting karena diraih di tengah tekanan kuat akibat menurunnya kinerja sektor migas yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

Sektor pertambangan dan penggalian yang didominasi migas tercatat mengalami kontraksi hingga 8,78 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Padahal sektor ini masih memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bojonegoro dengan porsi mencapai 42,03 persen.

Meski demikian, strategi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam memperkuat sektor-sektor non migas mulai menunjukkan hasil nyata.

Sektor pertanian tampil sebagai motor utama yang mampu menjaga laju ekonomi tetap bergerak positif.

Momentum panen raya padi yang terjadi pada awal tahun menjadi pendorong kuat pertumbuhan sektor pertanian.

Secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q), sektor ini melonjak hingga 65,94 persen.

Sementara secara tahunan, pertumbuhan pertanian mencapai 11,38 persen.

Lonjakan tersebut menjadi bukti bahwa berbagai program pembangunan pertanian yang selama ini dijalankan pemerintah daerah mulai memberikan dampak signifikan.

Mulai dari peningkatan jaringan irigasi, kemudahan akses pupuk bagi petani, hingga pendampingan modernisasi pertanian yang terus diperluas.

Keberhasilan sektor pertanian juga menjadi faktor penting yang membuat Bojonegoro mampu menghindari kontraksi ekonomi seperti yang pernah terjadi pada akhir 2023 dan awal 2024.

Saat itu, penurunan kinerja migas belum mampu diimbangi oleh sektor lain sehingga pertumbuhan ekonomi daerah sempat berada di zona negatif.

Tak hanya pertanian, geliat ekonomi masyarakat juga terlihat dari meningkatnya aktivitas sektor jasa dan pariwisata.

Kondisi iklim usaha yang semakin kondusif mendorong pertumbuhan berbagai sektor berbasis pelayanan dan konsumsi masyarakat.

Sektor penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman mencatat pertumbuhan sebesar 11,37 persen secara tahunan.

Sementara sektor jasa lainnya tumbuh lebih tinggi lagi, mencapai 14,77 persen.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa upaya diversifikasi ekonomi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mulai berjalan efektif.

Ketika sektor migas mengalami tekanan, sektor-sektor lain mampu mengambil peran sebagai penyangga ekonomi daerah.

Di tingkat regional, kontribusi Bojonegoro terhadap perekonomian Jawa Timur juga tetap diperhitungkan.

Kabupaten ini menempati posisi ke-9 sebagai penyumbang pertumbuhan ekonomi nonmigas terbesar di Jawa Timur dengan kontribusi sebesar 3,20 persen terhadap PDRB provinsi.

Capaian pada Triwulan I-2026 menjadi sinyal positif bahwa fondasi ekonomi Bojonegoro semakin kuat dan tidak lagi hanya bergantung pada sektor migas.

Pertumbuhan yang ditopang oleh pertanian, jasa, UMKM, serta sektor-sektor produktif lainnya menunjukkan arah transformasi ekonomi daerah yang semakin nyata.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berkomitmen untuk terus mempercepat hilirisasi produk pertanian, memperkuat daya saing UMKM, serta mengoptimalkan sektor jasa dan ekonomi kreatif.

Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan masyarakat. (yin)