Daerah

BPS Ungkap Penyebab Ekonomi Bojonegoro Nyaris Stagnan di Awal 2026

amunisinews001
8663
×

BPS Ungkap Penyebab Ekonomi Bojonegoro Nyaris Stagnan di Awal 2026

Sebarkan artikel ini
IMG 20260613 WA0008

BOJONEGORO – Perekonomian Kabupaten Bojonegoro pada Triwulan I Tahun 2026 mencatat pertumbuhan sebesar 0,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year).

Meski terbilang sangat tipis, sejumlah sektor nonmigas menunjukkan performa yang cukup menggembirakan dan menjadi penopang utama laju ekonomi daerah.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan Triwulan IV Tahun 2025 (quarter to quarter), ekonomi Bojonegoro justru mengalami peningkatan sebesar 2,52 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di berbagai sektor mulai bergerak lebih baik pada awal tahun 2026.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Bojonegoro dalam beberapa tahun terakhir masih mengalami fluktuasi yang cukup tajam.

Bahkan pada Triwulan I Tahun 2024, ekonomi Bojonegoro sempat terkontraksi hingga minus 3,72 persen akibat anjloknya lifting minyak dan gas bumi yang kala itu belum mampu diimbangi oleh sektor-sektor lainnya.

Pada Triwulan I Tahun 2026, sejumlah sektor strategis mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi.

Sektor pertanian tumbuh mencapai 11,38 persen, disusul sektor perdagangan sebesar 6,46 persen dan industri pengolahan sebesar 5,22 persen.

Selain itu, sektor jasa lainnya serta penyediaan akomodasi dan makan minum juga berhasil membukukan pertumbuhan di atas 10 persen.

Meski demikian, kuatnya pertumbuhan sektor-sektor tersebut belum mampu mendongkrak ekonomi secara signifikan karena masih terbebani oleh kontraksi sektor pertambangan dan migas yang turun hingga 8,78 persen.

Menurut Syawaluddin, struktur ekonomi Bojonegoro masih sangat dipengaruhi oleh sektor pertambangan.

Saat ini kontribusi sektor tersebut terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bojonegoro masih mencapai 42,03 persen.

“Ketika sektor pertambangan mengalami penurunan, dampaknya langsung terasa terhadap pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan,” ujarnya.

Namun demikian, tren positif mulai terlihat dari meningkatnya kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Bojonegoro.

Jika sebelumnya berada di kisaran 14 persen, kini kontribusinya naik menjadi 17,1 persen.

Kenaikan serupa juga terjadi pada sektor perdagangan, industri pengolahan, serta konstruksi yang terus menunjukkan perkembangan positif.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi juga didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat.

Pada Triwulan I Tahun 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi meningkat 5 persen, sedangkan konsumsi pemerintah melonjak hingga 20,45 persen.

Peningkatan belanja pemerintah tersebut antara lain ditopang oleh pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang mulai memberikan dampak terhadap perputaran ekonomi masyarakat.

Secara struktur ekonomi, konsumsi rumah tangga masih menjadi penggerak utama perekonomian Bojonegoro dengan kontribusi sebesar 46,22 persen.

Posisi berikutnya ditempati oleh net ekspor yang menyumbang sekitar 29,5 persen.

Sementara dari sisi kewilayahan, kontribusi perekonomian Bojonegoro terhadap ekonomi Jawa Timur mencapai 3,2 persen.

Capaian tersebut menempatkan Bojonegoro sebagai daerah dengan kontribusi ekonomi terbesar ke-9 di Jawa Timur.

Syawaluddin menegaskan bahwa pertumbuhan sektor perdagangan dan transportasi yang terus bergerak positif menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan dinamis.

Meski laju ekonomi daerah masih tertahan oleh penurunan sektor migas, mayoritas sektor lainnya menunjukkan tren pertumbuhan yang menjanjikan.

“Pertumbuhan ekonomi Bojonegoro memang masih tertahan oleh sektor pertambangan, tetapi sektor-sektor lainnya terus tumbuh dan menjadi fondasi penting bagi penguatan ekonomi daerah ke depan,” pungkasnya. (yin)