BOJONEGORO – Sejumlah masyarakat Desa Bayemgede, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, mendatangi balai desa setempat, Mereka menuntut Sekretaris Desa (Sekdes) Topan Abdullah mundur dari jabatannya karena dinilai meresahkan warga, Kamis(17/09/2026).
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan masyarakat menyampaikan sejumlah keberatan terhadap sikap dan kinerja Sekdes. Warga menilai Sekdes kurang bermasyarakat dan memiliki sikap yang dianggap arogan.
“Kami semua sudah tidak mau Sekdes ini dinas di Balai Desa Bayemgede. Tidak usah SP 1, SP 2, kami minta langsung SP 3 dan Sekdes mundur dari jabatan. Itulah permintaan masyarakat Desa Bayemgede,” ujar salah satu perwakilan warga.
Warga juga menyoroti dugaan insiden yang melibatkan Sekdes saat acara karnaval desa pada 5 September 2026. Menurut keterangan perwakilan masyarakat, Sekdes diduga mendatangi penjaga parkir dan meminta uang dalam kondisi mabuk. Peristiwa tersebut disebut sempat memicu ketegangan hingga nyaris terjadi perkelahian.
“Sebagai figur publik, seharusnya bisa memberikan contoh yang baik, bukan malah mengedepankan sikap arogan,” tambahnya.
Selain persoalan tersebut, warga juga mempertanyakan kedisiplinan Sekdes yang disebut jarang masuk kerja sehingga dikhawatirkan mengganggu pelayanan kepada masyarakat. Warga turut menyinggung domisili Sekdes yang berada di wilayah Kecamatan Baureno, bukan di Desa Bayemgede.
Menanggapi tuntutan warga, Kepala Desa Bayemgede, H. Mu’in, S.Pd., menegaskan bahwa pemberhentian perangkat desa harus dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Untuk memberhentikan perangkat desa harus sesuai aturan, tidak boleh langsung dicopot. Sekdes sendiri baru mendapatkan sanksi SP 1, masa langsung diberikan SP 3. Saya sebagai kepala desa harus tetap mengikuti prosedur pemerintahan,” ungkapnya.
H. Mu’in juga menyatakan akan meminta petunjuk kepada Bupati Bojonegoro terkait langkah selanjutnya dalam menangani persoalan tersebut.”Sekali lagi, saya harus berdasarkan aturan,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Desa Bayemgede, Topan Abdullah, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kejadian saat karnaval desa.
“Saya pribadi meminta maaf kepada seluruh masyarakat Desa Bayemgede. Saya akui memang salah atas kejadian yang terjadi pada acara karnaval desa kemarin. Saya siap diberikan sanksi dari pimpinan saya, yakni kepala desa,” ujar Topan.
Pertemuan tersebut menjadi momentum bagi pemerintah desa dan masyarakat untuk membahas persoalan yang berkembang, termasuk tuntutan warga terkait jabatan Sekdes dan langkah penyelesaiannya sesuai aturan yang berlaku. (yin)






