Daerah

HUT RI ke-81 di Bojonegoro, Upacara Penurunan Bendera Berlangsung Khidmat

amunisinews001
6
×

HUT RI ke-81 di Bojonegoro, Upacara Penurunan Bendera Berlangsung Khidmat

Sebarkan artikel ini
IMG 20260818 WA0007

BOJONEGORO – Rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Bojonegoro ditutup dengan upacara penurunan Bendera Merah Putih di Alun-Alun Bojonegoro, Senin (17/8/2026) sore.

Upacara berlangsung tertib dan khidmat. Komandan Kodim (Dandim) 0813 Bojonegoro Letkol Inf Dedy Dwi Wijayanto bertindak sebagai Inspektur Upacara.

Tak hanya menjadi seremoni penutup, upacara sore tersebut juga membawa pesan tentang nasionalisme, kepedulian sosial dan semangat gotong royong di tengah masyarakat yang sedang menghadapi musibah.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bojonegoro Laela Nor Aeny mengatakan, sebagian besar peserta dan undangan pada upacara penurunan bendera sama dengan rangkaian pengibaran pada pagi hari.

Namun, terdapat tambahan camat se-Kabupaten Bojonegoro.

Para camat sebelumnya bertugas memimpin upacara pengibaran bendera di wilayah kecamatan masing-masing pada pagi hari.

“Undangannya sama seperti undangan pengibaran bendera, namun sore ini ada tambahan camat se-Kabupaten Bojonegoro. Karena pagi tadi mereka memimpin upacara pengibaran di wilayahnya masing-masing,” jelas Laela.

Peringatan HUT ke-81 RI di Bojonegoro tahun ini juga diwarnai dengan semangat kepedulian terhadap masyarakat yang tengah tertimpa bencana.

Laela menjelaskan, Pemkab Bojonegoro mengikuti semangat nasional dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”.

Namun, kemerdekaan juga dimaknai melalui kepedulian terhadap sesama.

Ia menyebut terdapat bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjadi perhatian.

Pemkab Bojonegoro berencana memberikan dukungan bantuan bagi masyarakat terdampak.

“Kita mengikuti pusat, Indonesia berdaulat, adil dan makmur. Untuk Agustus tahun ini ada bencana di NTT, selanjutnya kita dari Pemkab akan support bantuan bencana tersebut,” ujarnya.

Menurut Laela, sejumlah daerah memilih meniadakan pertunjukan besar dalam rangka memperingati HUT ke-81 RI sebagai bentuk empati kepada masyarakat yang sedang menghadapi bencana.

Bojonegoro juga mengambil sikap serupa, tidak ada pesta besar yang digelar pada peringatan HUT RI tahun ini.

“Beberapa kabupaten/kota membatalkan pertunjukan HUT RI ke-81 ini karena ada bencana dan wujud kepedulian dengan saudara kita. Kalau di Bojonegoro memang tidak ada kegiatan besar, untuk sore ini hanya ada tampilan kolosal dari SMA 2 Taruna Pamong Praja,” terangnya.

Di balik prosesi penurunan bendera, ada kisah membanggakan dari salah satu anggota Paskibraka Kabupaten Bojonegoro.

M. Fahrur Ramli, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) Bojonegoro asal Desa Penganten, Kecamatan Balen, mendapat kesempatan menjadi bagian dari pasukan pengibar bendera pada peringatan HUT ke-81 RI.

Pada upacara sore, Fahrur bertugas dalam pasukan 8 sebagai trisula pengerek. Sementara saat pengibaran bendera pada pagi hari, ia bertugas dalam pasukan 45.

“Kalau tadi pagi saat pengibaran di pasukan 45, sore ini di penurunan jadi trisula pasukan 8 sebagai pengerek,” ungkapnya.

Bagi Fahrur, menjadi Paskibraka Kabupaten Bojonegoro merupakan pengalaman yang membanggakan.

Apalagi, ia membawa nama Sekolah Rakyat dalam momentum nasional tersebut.

Ada perubahan yang dirasakan Fahrur dalam pelaksanaan tugas Paskibraka tahun ini, terutama pada tempo langkah tegap.

Dia menjelaskan, tempo langkah tegap pada 2026 lebih cepat dibandingkan ketentuan sebelumnya.

Perubahan tersebut mengacu pada Peraturan Panglima TNI (Perpang) Nomor 3 Tahun 2025.

Dalam aturan terbaru tersebut, tempo langkah tegap ditetapkan 116 langkah per menit dengan panjang langkah 60 sentimeter.

Ketentuan itu menggantikan Perpang TNI Nomor 58 Tahun 2018 yang sebelumnya menetapkan tempo 96 langkah per menit.

Bagi Fahrur, pengalaman menjadi Paskibraka adalah bekal untuk membentuk karakter dan meningkatkan kedisiplinan.

“Saya bangga bisa bergabung dengan Paskibraka Bojonegoro. Semoga ke depan bisa lebih disiplin, bisa membanggakan orang tua dan sekolah, dan kiprah saya tidak berhenti di sini saja, namun bisa menjadi duta Pancasila di sekolah maupun lingkungan masyarakat,” pungkasnya.

Upacara penurunan bendera akhirnya menjadi penutup rangkaian HUT ke-81 RI di Bojonegoro.

Dari lapangan upacara, pesan kemerdekaan kembali ditegaskan, yakni nasionalisme tidak hanya ditunjukkan melalui seremoni, tetapi juga melalui kedisiplinan, kepedulian dan kesediaan untuk hadir bagi sesama. (yin)