BOJONEGORO – Organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kabupaten Bojonegoro didorong tidak hanya menjadi wadah berkumpul, tetapi juga tampil sebagai penggerak perubahan dan mitra strategis pemerintah dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Sarasehan bertema “Memperkuat Persatuan, Merawat Kebhinnekaan, Menambah Wawasan Kebangsaan” yang digelar di Ruang Angling Dharma, Gedung Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jumat (16/10/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro (HJB) ke-349 ini sekaligus menjadi ajang mempererat silaturahmi antarormas, memperkuat komunikasi, serta membangun kolaborasi untuk mendukung pembangunan daerah.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Bojonegoro, Kusnandaka Tjatur, saat membuka acara menegaskan bahwa ormas memiliki potensi besar sebagai kekuatan sosial.
Jika berbagai potensi tersebut disatukan, kontribusinya akan semakin terasa bagi masyarakat.
Menurutnya, keberadaan ormas perlu diikuti dengan tujuan yang jelas, program nyata, serta kemampuan memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi warga.
“Organisasi kemasyarakatan diharapkan tidak hanya berkumpul, tetapi juga memiliki satu tujuan dan mampu menjadi solusi atas persoalan di lingkungan masing-masing,” pesannya.
Kusnandaka mengajak seluruh ormas memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membantu menjawab berbagai tantangan pembangunan, termasuk persoalan pengangguran dan kemiskinan.
Ormas juga diharapkan menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah dengan menyampaikan aspirasi warga sekaligus mendorong lahirnya program kerja yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Dengan demikian, peran organisasi kemasyarakatan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat diwujudkan melalui aksi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Selain mendorong kolaborasi pembangunan, Kusnandaka menyoroti pentingnya penguatan wawasan kebangsaan, terutama di kalangan generasi muda.
Perubahan pola komunikasi dan pesatnya perkembangan teknologi menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, ormas perlu menyesuaikan cara pendekatan agar nilai-nilai persatuan, toleransi dan kebangsaan tetap relevan serta mudah diterima oleh generasi muda.
Sementara itu, perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur, Agus Imantoro, mengingatkan bahwa tantangan menjaga persatuan semakin kompleks di era digital.
Potensi polarisasi sosial, persoalan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), derasnya arus globalisasi, serta penyebaran hoaks melalui media digital menjadi sejumlah hal yang perlu diwaspadai bersama.
Agus juga menyoroti potensi penyebaran paham radikalisme yang dapat menyasar anak-anak dan remaja melalui media sosial maupun permainan daring.
Menurutnya, pengawasan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar perlu diperkuat agar masyarakat semakin peka terhadap berbagai pengaruh yang berpotensi mengganggu persatuan dan kehidupan sosial.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, ormas memiliki peluang besar untuk mengambil peran melalui edukasi politik dan kebangsaan, mendorong terciptanya perdamaian, serta menggerakkan pelestarian kebudayaan.
Peran tersebut akan semakin efektif apabila dilakukan secara bersama-sama dengan pemerintah daerah dan elemen masyarakat lainnya.
Melalui seminar sarasehan ini, diharapkan hubungan antara ormas dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro semakin erat, tidak hanya dalam komunikasi, tetapi juga dalam pelaksanaan program yang berdampak bagi masyarakat.
Semangat guyub rukun dan penghormatan terhadap keberagaman menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas sosial sekaligus mendukung pembangunan daerah.
Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, ormas diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi atas persoalan masyarakat, memperkuat persatuan, serta ikut mewujudkan Bojonegoro yang bahagia, makmur dan membanggakan. (yin)






