Daerah

Batik Lelaku Sulur Wungu, Motif Lokal Margomulyo Bojonegoro yang Penuh Makna Samin

amunisinews001
5
×

Batik Lelaku Sulur Wungu, Motif Lokal Margomulyo Bojonegoro yang Penuh Makna Samin

Sebarkan artikel ini
IMG 20260823 WA0001

BOJONEGORO — Kekayaan lokal Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, kembali mendapat ruang untuk berkembang.

Kali ini, potensi tersebut hadir melalui Batik Lelaku Sulur Wungu, motif batik yang terinspirasi dari tanaman uwi ungu, salah satu tanaman yang tumbuh di wilayah setempat.

Motif tersebut bukan hanya menghadirkan bentuk tanaman lokal ke dalam kain batik.

Di balik setiap ornamen, tersimpan nilai-nilai kehidupan masyarakat Samin yang selama ini menjadi bagian dari identitas budaya Margomulyo.

Pengembangan Batik Lelaku Sulur Wungu didorong Pemerintah Desa Margomulyo bersama mahasiswa KKN PINTAR Unugiri 2026 Kelompok 39.

Salah satu langkah penting yang dilakukan yakni mendorong pencatatan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) atas karya tersebut.

Motif Batik Lelaku Sulur Wungu merupakan karya Adinda Putri Febri Susanti, warga Desa Margomulyo.

Sebelumnya, masyarakat Margomulyo juga telah mengenal motif Obor Sewu sebagai salah satu potensi batik lokal.

Mahasiswa KKN PINTAR Unugiri Kelompok 39, Sandrianto, mengatakan gagasan pencatatan HaKI muncul karena Lelaku Sulur Wungu memiliki kekuatan dari sisi visual sekaligus filosofi.

Motif tersebut mengangkat karakter tanaman uwi ungu dan menghubungkannya dengan pitutur luhur masyarakat Samin, seperti sabar, trokal, narimo, serta prinsip ora iri, drengki, srei, lan dahwen.

Nama “Lelaku Sulur Wungu” menggambarkan perjalanan tanaman uwi sejak ditanam, dirawat hingga menghasilkan panen.

Sulur uwi yang merambat dan terus mencari ruang untuk tumbuh menjadi simbol trokal, yakni semangat untuk terus berusaha dan tidak mudah menyerah.

Sementara ornamen daun dimaknai sebagai gambaran pertumbuhan serta keberlanjutan kehidupan.

Motif uwi yang digambarkan dalam kondisi terbelah membawa pesan sabar.

Tanaman tersebut membutuhkan waktu sebelum bisa dipanen, sehingga menjadi pengingat bahwa sebuah hasil tidak dapat diperoleh secara instan.

Makna lain muncul dari gambaran hasil panen uwi, berapa pun hasil yang diperoleh, baik banyak maupun sedikit, diterima dengan rasa syukur.

Filosofi ini merepresentasikan nilai narimo, yaitu menerima dan mensyukuri hasil dari sebuah usaha.

Motif uwi yang disusun menyerupai bentuk ceplok menggambarkan umbi yang tumbuh di dalam tanah.

Bentuk tersebut sekaligus menyimbolkan kemampuan tanaman untuk bertahan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Tak kalah menarik, ornamen rumput juga memiliki pesan filosofis.

Rumput dapat hidup di berbagai tempat dan tumbuh berdampingan dengan tanaman lain.

Gambaran itu menjadi simbol pitutur Samin ora iri, drengki, srei, lan dahwen, yang mengandung pesan untuk tidak iri, dengki, saling menyakiti maupun menyebarkan fitnah.

Sandrianto menjelaskan, proses pengembangan motif dilakukan melalui sejumlah tahapan.

Mahasiswa terlebih dahulu melakukan observasi terhadap bentuk tanaman uwi ungu secara langsung.

Tahap berikutnya dilanjutkan dengan menggali informasi melalui wawancara bersama sesepuh Samin untuk memperkuat filosofi yang terkandung dalam motif.

Dari hasil observasi dan wawancara tersebut, mahasiswa kemudian membuat beberapa alternatif desain.

Motif dipilih dan direvisi, kemudian diperkuat dari sisi makna serta filosofi sebelum masuk tahap produksi, upaya tersebut mendapat respon positif masyarakat.

Penyerahan Surat Pencatatan Ciptaan (HaKI) dilakukan di sela-sela kegiatan Kirab Bendera Merah Putih sepanjang 80 dan 81 meter dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Dusun Jepang, Kecamatan Margomulyo.

Camat Margomulyo, Joko Tri Cahyono, memberikan apresiasi terhadap keterlibatan mahasiswa KKN PINTAR Unugiri dalam menggali dan mengembangkan potensi lokal desa.

Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN bukan hanya sebatas menjalankan program kerja, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan budaya dan potensi masyarakat.

Dia berharap Batik Lelaku Sulur Wungu tidak berhenti pada pencatatan HaKI, tetapi terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.

“Harapannya, Batik Lelaku Sulur Wungu ini dapat terus dikembangkan, dikenalkan lebih luas, dan menjadi identitas serta kebanggaan masyarakat Margomulyo,” pungkasnya.

Dengan perpaduan antara tanaman lokal, karya kreatif warga dan filosofi masyarakat Samin, Batik Lelaku Sulur Wungu berpeluang menjadi wajah baru identitas budaya Margomulyo sekaligus aset ekonomi kreatif Bojonegoro. (yin)