Daerah

HJB ke-349 Makin Meriah: Sandur, Kuliner Gratis dan 202 UMKM Ramaikan Bojonegoro

×

HJB ke-349 Makin Meriah: Sandur, Kuliner Gratis dan 202 UMKM Ramaikan Bojonegoro

Sebarkan artikel ini

BOJONEGORO – Alun-Alun Bojonegoro berubah menjadi pusat kemeriahan budaya dan hiburan rakyat saat Festival Sandur dan Pesta Rakyat digelar dalam rangkaian Bojonegoro Bahagia Car Free Night, Sabtu (24/10/2026).

Ribuan warga memadati kawasan tersebut untuk menikmati pertunjukan seni tradisional, berburu kuliner gratis, hingga menyaksikan beragam kreativitas generasi muda dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro (HJB) ke-349.

Suasana semarak terasa sepanjang kegiatan. Perayaan tidak hanya menjadi ajang hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menghadirkan ruang bagi pelestarian budaya lokal, pengembangan kreativitas pelajar, serta promosi produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Beragam kegiatan disuguhkan kepada pengunjung, mulai dari pertunjukan kesenian tradisional, perlombaan pelajar, pameran karya siswa, hingga bazar UMKM lokal.

Perpaduan seni, pendidikan, kuliner, dan ekonomi kerakyatan tersebut menjadikan perayaan HJB ke-349 semakin dekat dengan masyarakat.

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menegaskan bahwa Festival Sandur memiliki arti penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi dan warisan budaya leluhur.

Menurutnya, kesenian Sandur bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian dari identitas yang melekat pada masyarakat Bojonegoro.

“Sandur merupakan salah satu tradisi kesenian yang menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk merawat tradisi, khususnya peninggalan para pendahulu yang menggambarkan identitas Kabupaten Bojonegoro,” ujarnya.

Dia berharap masyarakat terus menjaga dan mengembangkan kesenian tradisional agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Semangat kebersamaan dan persatuan juga perlu diperkuat sebagai modal penting untuk membangun Bojonegoro yang semakin maju, sejahtera dan membanggakan.

Dalam kesempatan tersebut, Setyo Wahono turut memberikan apresiasi kepada para pelajar yang berhasil meraih prestasi dalam berbagai perlombaan.

Ia berharap generasi muda Bojonegoro terus mengembangkan potensi, meningkatkan kreativitas, serta memiliki daya saing untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Lukiswati, menjelaskan bahwa kesenian Sandur Bojonegoro telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018.

Penetapan tersebut menjadi pengingat bahwa Sandur memiliki nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang penting untuk dipertahankan.

Karena itu, pelestariannya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama dalam menyiapkan generasi penerus yang mampu memahami sekaligus mengembangkan kesenian tersebut.

Menurut Lukiswati, Festival Sandur tahun ini juga menjadi tindak lanjut dari workshop pagelaran Sandur yang dilaksanakan pada 4–5 Agustus 2026 di Gedung Serba Guna Kabupaten Bojonegoro.

Workshop tersebut melibatkan guru dan siswa dari 50 SMP dan MTs se-Kabupaten Bojonegoro.

Para peserta mendapatkan kesempatan mempelajari sejarah, filosofi, serta praktik pementasan Sandur bersama seniman dan narasumber yang berkompeten.

Melalui kegiatan tersebut, pelestarian Sandur diharapkan tidak berhenti pada panggung festival semata.

Kesenian tradisional ini juga diharapkan semakin dikenal dan berkembang di lingkungan pendidikan melalui kegiatan pembelajaran seni maupun ekstrakurikuler sekolah.

Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengenal, mempelajari dan meneruskan warisan budaya daerahnya.

Festival Sandur dan Pesta Rakyat HJB ke-349 turut memberikan ruang bagi pelajar untuk menunjukkan kreativitas dan kecintaan terhadap budaya lokal.

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah lomba mewarnai bertema Sandur untuk tingkat RA dan TK yang diikuti 65 peserta.

Melalui perlombaan ini, pengenalan budaya daerah dilakukan sejak usia dini dengan pendekatan yang menyenangkan.

Selain itu, lomba tembang Sandur tingkat SMP dan MTs diikuti 19 grup peserta.

Ajang tersebut menjadi sarana bagi pelajar untuk mengenal seni tradisional sekaligus mengembangkan kemampuan dan keberanian tampil di hadapan publik.

Pameran karya siswa dari jenjang SD hingga SMA/SMK sederajat juga turut meramaikan kegiatan.

Berbagai karya yang ditampilkan menjadi bukti bahwa kreativitas generasi muda dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas budaya daerah.

Pertunjukan Sandur sendiri diselenggarakan dalam tiga sesi, yakni pagi, sore, dan malam hari.

Pembagian jadwal tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyaksikan kesenian tradisional Bojonegoro dalam rangkaian acara yang berlangsung sepanjang hari.

Sebagai bentuk penghargaan atas usaha dan prestasi peserta, penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba dilakukan secara simbolis oleh Bupati Setyo Wahono, Wakil Bupati Nurul Azizah, Sekretaris Daerah Edi Susanto, serta jajaran tamu undangan.

Tak hanya menghidupkan panggung kesenian, Festival Sandur dan Pesta Rakyat juga memberikan ruang bagi perputaran ekonomi masyarakat.

Sebanyak 202 pelaku UMKM lokal dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

Kehadiran para pelaku usaha ini membuka kesempatan untuk memperkenalkan produk kepada pengunjung sekaligus meramaikan aktivitas ekonomi di kawasan Alun-Alun Bojonegoro.

Masyarakat juga dapat menikmati sekitar 10.000 porsi makanan gratis yang disediakan dalam rangkaian acara.

Sajian kuliner tersebut menjadi salah satu daya tarik yang menambah antusiasme warga untuk datang dan menikmati perayaan Hari Jadi Bojonegoro.

Di sisi lain, lomba esai sejarah desa berhasil menarik minat lebih dari 200 peserta.

Tingginya partisipasi tersebut menunjukkan adanya ketertarikan masyarakat untuk menggali sejarah dan mengenali lebih dekat perjalanan desa masing-masing.

Keterlibatan pelajar, seniman, pelaku UMKM dan masyarakat dalam satu rangkaian kegiatan memperlihatkan bahwa peringatan hari jadi daerah dapat menjadi ruang kolaborasi lintas sektor.

Festival Sandur dan Pesta Rakyat dalam rangka Bojonegoro Bahagia Car Free Night menjadi salah satu upaya memadukan pelestarian budaya, pengembangan potensi generasi muda dan pemberdayaan ekonomi lokal.

Di tengah kemeriahan perayaan, keberadaan Sandur menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah tidak harus meninggalkan akar tradisi.

Sebaliknya, warisan budaya dapat terus diperkenalkan melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman dan melibatkan generasi penerus.

Keterlibatan ratusan pelaku UMKM serta ribuan warga juga memperlihatkan besarnya potensi kegiatan budaya sebagai penggerak aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Melalui momentum Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro ke-349, pelestarian seni tradisional diharapkan semakin kuat, kreativitas generasi muda terus berkembang, dan produk UMKM lokal semakin dikenal masyarakat luas.

Dengan semangat kebersamaan tersebut, Bojonegoro tidak hanya merayakan pertambahan usia daerah, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan membangun kebanggaan bersama. (yin)