Daerah

BI dan Dinsos Bojonegoro Ajari Tunanetra Kenali Rupiah Lewat Rabaan

amunisinews001
7840
×

BI dan Dinsos Bojonegoro Ajari Tunanetra Kenali Rupiah Lewat Rabaan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260526 WA0039

BOJONEGORO – Upaya meningkatkan literasi keuangan inklusif terus digencarkan di Kabupaten Bojonegoro.

Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur menggelar Sosialisasi Edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah di Aula SLB Negeri Sumbang, Selasa (26/5/2026).

Kegiatan berlangsung hangat, interaktif, dan penuh antusias. Puluhan anggota DPC Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) Bojonegoro tampak aktif mengikuti setiap sesi edukasi yang dikemas santai namun sarat manfaat.

Mewakili Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Nafiatin Ni’mah, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan edukasi yang dinilai sangat penting bagi penyandang disabilitas, khususnya hambatan penglihatan.

Menurutnya, pemahaman terhadap uang Rupiah bukan hanya hak, tetapi juga kewajiban seluruh masyarakat Indonesia agar terhindar dari berbagai tindak kejahatan keuangan, termasuk peredaran uang palsu.

“Seluruh masyarakat berhak mendapatkan akses informasi yang setara, termasuk dalam mengenali dan menjaga uang Rupiah. Edukasi seperti ini sangat penting agar teman-teman Pertuni semakin mandiri dan aman dalam bertransaksi,” ujarnya.

Suasana aula pun beberapa kali pecah oleh gelak tawa ketika Nafiatin menyelipkan humor segar di sela sambutan, membuat kegiatan terasa lebih akrab dan tidak kaku.

Dalam sesi utama, tim dari Bank Indonesia Jawa Timur memperkenalkan gerakan CBP Rupiah secara detail.

Peserta diajak memahami pentingnya mencintai Rupiah dengan menjaga kondisi fisik uang tetap layak edar.

Salah satu materi yang paling menarik perhatian peserta adalah pengenalan blind code atau tanda khusus berupa garis timbul di tepi uang kertas yang berfungsi membantu penyandang hambatan penglihatan mengenali nominal uang melalui rabaan.

Bank Indonesia juga mengingatkan pentingnya gerakan “5 Jangan”, yakni jangan dilipat, jangan dicoret, jangan diremas, jangan distapler, dan jangan dibasahi.

Sebab, kerusakan pada uang dapat menghilangkan tekstur garis timbul yang sangat membantu penyandang tunanetra mengenali pecahan Rupiah.

Tak hanya edukatif, kegiatan juga dibuat semakin seru lewat permainan interaktif.

Sejumlah anggota Pertuni ditantang menyusun uang Rupiah acak berdasarkan nominal terbesar hingga terkecil hanya dengan mengandalkan indra peraba.

Sorak semangat dan tepuk tangan peserta memenuhi aula saat para peserta berlomba menjadi yang tercepat dan paling tepat dalam mengenali pecahan uang.

Pemenang permainan langsung mendapatkan hadiah menarik dari panitia.

Selain literasi keuangan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang edukasi tentang penggunaan istilah yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.

Kepala SLB Negeri Sumbang, Muslihati, menjelaskan bahwa istilah yang digunakan masyarakat terus berkembang mengikuti pendekatan yang lebih manusiawi dan menghargai martabat individu.

“Dulu masyarakat mengenal istilah cacat, kemudian berkembang menjadi tunanetra dan disabilitas. Saat ini, istilah yang lebih tepat dan santun adalah menggunakan kata hambatan, seperti hambatan penglihatan atau hambatan pendengaran,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, Dinsos Bojonegoro dan Bank Indonesia berharap edukasi keuangan inklusif dapat terus diperluas agar seluruh lapisan masyarakat memiliki pemahaman yang baik tentang Rupiah sekaligus merasa dihargai dan dilibatkan dalam kehidupan sosial maupun ekonomi. (yin)