TNI/POLRI

Merajut Persaudaraan Di Bumi Lamongan: Psikoedukasi Pesilat Satukan Semangat Perguruan Silat

884
×

Merajut Persaudaraan Di Bumi Lamongan: Psikoedukasi Pesilat Satukan Semangat Perguruan Silat

Sebarkan artikel ini
Img 20250724 wa0069

LAMONGAN — Udara sejuk pagi menyambut kehangatan langkah para pesilat muda yang berkumpul di kawasan wisata edukasi Wego, Desa Deket Agung, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan. Kamis (24/7/2025).

Di bawah naungan langit yang teduh, sebuah semangat besar dipancarkan dari ratusan pasang mata yang hadir semangat persatuan, persaudaraan, dan cinta tanah air.

Hari itu, Polres Lamongan bersama Biro SDM Polda Jawa Timur menggelar sebuah kegiatan bertajuk “Psikoedukasi Pesilat: Pesilat Bersatu, Indonesia Maju”. Sebuah forum kebersamaan yang mempertemukan perwakilan 13 perguruan silat di Lamongan, dengan satu tujuan mulia: merajut kembali harmoni dan kebersamaan dalam bingkai budaya dan karakter bangsa, Silat Tak Sekadar Jurus, Tapi Jalan Hidup

Dalam sambutannya, Kapolres Lamongan AKBP Agus Dwi Suryanto, S.I.K., M.H. menegaskan bahwa pencak silat bukan sekadar olahraga bela diri, melainkan warisan budaya yang sarat nilai luhur.

Ia menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada Tim Psikoedukasi Biro SDM Polda Jatim atas kehadiran dan kontribusinya dalam membentuk karakter generasi muda.

“Kami ingin para pesilat tumbuh bukan hanya sebagai pendekar di gelanggang, tapi juga sebagai teladan di tengah masyarakat kuat, bijak, dan penuh rasa hormat,” tutur Kapolres dengan semangat.

Dipimpin langsung oleh AKBP Dr. M. Mujib Ridwan, S.Psi., M.Psi., Psikolog, kegiatan psikoedukasi ini menjadi ruang dialog yang hangat dan membangun. Dalam suasana santai namun sarat makna, peserta diajak menyelami

aspek psikologis dalam kehidupan seorang pesilat mulai dari pengendalian emosi, nilai sportivitas, hingga cara membangun komunikasi lintas perguruan.

“Silat adalah jalan pembentukan karakter. Kegiatan ini menjadi titik awal memperkuat rasa memiliki terhadap budaya bangsa dan menjunjung tinggi persatuan di atas perbedaan,” ujar Dr. Mujib dalam paparannya yang disambut antusias.

Acara dilanjutkan dengan sesi refleksi, pembacaan doa, penyerahan plakat kepada IPSI, dan foto bersama yang menjadi simbol kuatnya komitmen antar perguruan silat.

Tim Psikoedukasi juga memberikan apresiasi kepada peserta yang aktif berpartisipasi dalam diskusi dan latihan kelompok.

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan ini diakhiri dengan makan siang bersama sederhana, namun penuh makna sebagai lambang keharmonisan.

Kegiatan ini bukan akhir, melainkan awal dari langkah besar membangun budaya damai di kalangan pesilat muda.

Harapannya kegiatan seperti ini bisa menjadi inspirasi di berbagai daerah lain di Jawa Timur, bahkan di seluruh Indonesia.

Di Lamongan, hari itu bukan hanya tentang silat. Tapi tentang menyatukan hati, mempererat tali persaudaraan, dan meneguhkan tekad untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan demi Indonesia yang lebih damai dan maju.(Ded)