Daerah

Seratus Peserta Ikuti Ruwatan Murwakala Bojonegoro di Kayangan Api, Sarat Doa dan Makna Spiritual

amunisinews001
8663
×

Seratus Peserta Ikuti Ruwatan Murwakala Bojonegoro di Kayangan Api, Sarat Doa dan Makna Spiritual

Sebarkan artikel ini
IMG 20260617 WA0008

BOJONEGORO – Suasana penuh khidmat menyelimuti kawasan wisata Kayangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Selasa (16/6/2026).

Ratusan masyarakat berkumpul mengikuti prosesi Ruwatan Murwakala 2026, sebuah tradisi budaya yang sarat nilai spiritual sekaligus menjadi simbol penghormatan terhadap warisan leluhur.

Sekitar 100 peserta sukerta mengikuti rangkaian ruwatan yang berlangsung di tengah nyala api abadi Kayangan Api, ikon wisata budaya dan sejarah Bojonegoro yang telah dikenal luas.

Prosesi sakral tersebut dipadukan dengan pagelaran wayang kulit berlakon Murwakala yang mengandung pesan moral tentang penyucian diri, keselamatan, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Tradisi tahunan ini tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya Jawa, tetapi juga momentum memperkuat rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam, serta mempererat kebersamaan masyarakat.

Dalam sambutannya, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menegaskan bahwa Ruwatan Murwakala memiliki makna spiritual yang mendalam.

Melalui ritual tersebut, masyarakat diajak untuk melakukan introspeksi diri, memanjatkan doa, dan memohon keberkahan agar terhindar dari berbagai hal negatif.

“Ruwatan Murwakala merupakan tradisi yang sarat nilai spiritual. Melalui ritual ini, kita diajak membersihkan diri dari berbagai hal negatif, memanjatkan doa, serta berharap kehidupan yang lebih tenteram, lebih baik, dan lebih sejahtera,” ujar Bupati.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berkomitmen untuk terus melestarikan budaya dan kearifan lokal sebagai identitas daerah.

Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut dinilai memiliki peran penting dalam membangun karakter masyarakat sekaligus memperkuat rasa kebersamaan.

Bupati Bojonegoro menambahkan, kegiatan budaya seperti ruwatan bukan sekadar seremoni atau tontonan semata.

Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar mengenal, memahami, dan mencintai warisan budaya yang dimiliki daerahnya.

Pada kesempatan itu, Bupati juga menyoroti pentingnya menjaga keberadaan Kayangan Api sebagai aset budaya, sejarah, dan geowisata unggulan Bojonegoro.

Kawasan yang masuk dalam pengembangan geopark tersebut dinilai memiliki nilai strategis yang harus terus dirawat dan dikembangkan.

“Kayangan Api adalah kebanggaan masyarakat Bojonegoro. Warisan leluhur ini harus kita jaga bersama agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menghidupkan tradisi dan budaya lokal sebagai bagian dari jati diri daerah.

Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, warisan budaya diyakini akan tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.

Selain disaksikan langsung oleh masyarakat yang hadir di lokasi, rangkaian Ruwatan Murwakala 2026 juga dapat diikuti secara daring melalui kanal YouTube Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, sehingga pesan pelestarian budaya dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dapat menjangkau masyarakat lebih luas.

Melalui penyelenggaraan Ruwatan Murwakala, Bojonegoro kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga kekayaan budaya lokal sekaligus memperkuat identitas daerah sebagai wilayah yang kaya akan tradisi, sejarah, dan kearifan leluhur. (yin)