LAMONGAN – Musim tanam yang seharusnya menjadi harapan, kini berubah menjadi duka mendalam bagi ratusan petani di Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jumat (23/5/2025)
Sebanyak 74 hektare lahan pertanian terendam banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo yang tak terbendung.
Bentangan sawah hijau yang baru ditanami padi dan jagung kini hanya menyisakan genangan air dan batang tanaman yang mati. Usia tanaman yang baru menginjak 7 hingga 15 hari tak mampu bertahan dalam genangan air yang terus datang selama sepekan terakhir.
Camat Babat, Joni, mengungkapkan bahwa banjir melanda tiga desa terdampak paling parah: Desa Truni, Trepan, dan Bedahan.
“Hampir semua tanaman yang terendam sudah mati. Ini membuat para petani tidak bisa memanen satu pun hasilnya,” tuturnya dengan nada prihatin.
Tak hanya ladang yang hilang, sedikitnya 390 rumah warga juga ikut terendam air di empat wilayah, termasuk Kelurahan Babat dan Banaran. Kerugian yang ditanggung petani diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Namun di balik awan gelap itu, secercah harapan muncul. Kementerian Pertanian RI telah turun langsung meninjau lahan terdampak di Desa Trepan dan berjanji menyalurkan bantuan berupa benih padi kepada para petani.
“Kami pastikan bantuan benih akan segera dikirim agar petani bisa memulai kembali dari nol,” ujar Joni menambahkan.
Banjir ini bukan sekadar bencana alam, tapi tamparan bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan petani lokal. Diperlukan langkah cepat dan nyata agar mereka yang hidup dari tanah tak terus menjadi korban dari alam yang tak bersahabat. (Ded)






