Peristiwa

Tragedi Diujung Senja: Jejak Sunyi Abdillah di Sungai Bengawan Solo

orbitnasional333
1009
×

Tragedi Diujung Senja: Jejak Sunyi Abdillah di Sungai Bengawan Solo

Sebarkan artikel ini
Img 20250706 wa0036

LAMONGAN — Pagi yang tenang di tepian Sungai Bengawan Solo mendadak berubah sendu. Di antara desir angin dan aliran air yang mengalun pelan,

sesosok tubuh ditemukan terbujur diam di bantaran sungai, Dusun Tangar, Desa Bedahan, Kecamatan Babat. Minggu (6/7/2025)

Jenazah pria muda itu kemudian dikenali sebagai Abdillah Ahmad Fauzan (25), warga Desa Ngabetan, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik.

Sosok perantau yang sehari-hari dikenal pendiam namun pekerja keras, kini telah kembali ke pangkuan bumi dalam sunyi.

Segalanya bermula pada Kamis malam (3/7), ketika warga melaporkan kepada Polsek Babat tentang sebuah sepeda motor Honda Beat hitam bernomor polisi W 6598 CT yang terparkir mencurigakan di atas Jembatan Cincim Baru, Kelurahan Babat.

Tak ada pengendara, hanya barang-barang pribadi tertinggal: helm biru, sandal gunung, dus HP, topi cokelat, tas berisi alat bengkel, dan jas hujan di dalam jok. Sepeda motor itu kemudian diamankan di Mapolsek Babat.

Keesokan harinya, seorang ibu dengan wajah cemas dan mata sembab datang ke kantor polisi. Namanya Mariana Silvana Dolon Seding.

Ia mengaku sepeda motor itu milik anaknya, Abdillah, yang pamit “sebentar ngopi” pada Kamis siang dan sejak itu tak pernah kembali. Handphone-nya pun tak bisa dihubungi.

Penyelidikan dilakukan. Namun tak seorang pun saksi mata melihat momen di mana Abdillah menghilang. Petunjuk berhenti pada motor yang terdiam di jembatan diam yang menyimpan duka.

Lalu Sabtu pagi (5/7)2025), ketika mentari mulai memanjat langit, laporan warga kembali masuk. Sesosok jenazah laki-laki ditemukan mengambang di tepian Bengawan Solo.

Kepolisian Babat bersama BPBD Lamongan bergerak cepat. Evakuasi berlangsung sekitar pukul 10.15 WIB. Jenazah dibawa ke RSU Karangkembang untuk diperiksa oleh dr. Shiko Indrawan.

Hasil visum menyatakan tidak ada tanda kekerasan. Luka yang ada hanyalah luka batin, mungkin, yang tak bisa dibaca oleh alat medis manapun.

Pihak keluarga mengenali tubuh Abdillah. Tangis pecah, namun ketegaran sang ibu lebih kuat. Ia menyatakan menerima kepergian anaknya sebagai musibah dan memilih untuk tidak dilakukan autopsi.

Kini, Abdillah telah berpulang. Sepeda motornya, saksi bisu dari malam terakhirnya, masih diamankan sebagai barang bukti. Sementara itu.

masyarakat diingatkan oleh Kapolsek Babat, Kompol Chakim Amrullah, S.H., M.H., untuk selalu peduli terhadap lingkungan dan segera melaporkan setiap hal mencurigakan.

Di antara riak air Bengawan Solo, cerita Abdillah hanyut bersama arus meninggalkan tanya yang tak akan pernah sepenuhnya terjawab.(Ded)