BOJONEGORO – Sorotan masyarakat terhadap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, mendapat tanggapan langsung dari pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kepoh 2.
Kepala Dapur SPPG Kepoh 2, Sanusi Gufron, menyampaikan klarifikasi terkait sejumlah masukan wali murid mengenai kualitas dan penyajian makanan yang diberikan kepada para siswa.
Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Selasa (3/11/2026), Sanusi menegaskan bahwa pihaknya terbuka terhadap kritik dan saran masyarakat.
Evaluasi tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan, terutama dalam memastikan makanan yang didistribusikan memenuhi kebutuhan gizi sekaligus dapat diterima oleh anak-anak.
Sanusi juga menyampaikan permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam penyajian menu MBG.
Dia memastikan seluruh masukan dari wali murid akan menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan dapur ke depannya.
“Kami berterima kasih atas saran yang diberikan oleh masyarakat dan wali murid. Hal ini menjadi bahan evaluasi penting bagi kami untuk terus berbenah ke depan,” ujar Sanusi.
Salah satu hal yang menjadi perhatian masyarakat adalah cita rasa makanan yang dianggap kurang asin.
Menanggapi hal tersebut, Sanusi menjelaskan bahwa penggunaan garam dalam menu MBG memang dibatasi dengan pertimbangan kesehatan.
Menurutnya, pengendalian penggunaan garam merupakan bagian dari upaya menjaga kandungan natrium dalam makanan agar tidak berlebihan, khususnya bagi anak-anak usia sekolah yang menjadi penerima manfaat program.
Meski demikian, pihak SPPG Kepoh 2 tidak mengabaikan masukan terkait rasa makanan.
Evaluasi terhadap teknik pengolahan dan pembumbuan akan dilakukan agar hidangan berikutnya tetap memiliki cita rasa gurih alami tanpa mengurangi standar kesehatan dan kebutuhan gizi.
Selain persoalan rasa, penggunaan nasi jagung dalam menu MBG juga menjadi bahan perbincangan masyarakat.
Sanusi menegaskan bahwa pemanfaatan nasi jagung sebagai salah satu variasi sumber karbohidrat diperbolehkan dalam petunjuk teknis (juknis) program MBG.
Pihaknya menyebut menu tersebut disajikan dalam kondisi baik dan layak dikonsumsi.
Berdasarkan pemeriksaan internal yang dilakukan, pihak dapur mengaku tidak menemukan persoalan kualitas pada hidangan nasi jagung yang menjadi sorotan tersebut.
“Di dalam Petunjuk Teknis (Juknis) resmi program, pemanfaatan pangan lokal seperti nasi jagung memang diperbolehkan. Ini strategi kami memberikan variasi menu agar anak-anak tidak bosan, sekaligus komitmen nyata dalam memberdayakan UMKM dan petani lokal di Bojonegoro,” tegasnya.
Pemanfaatan bahan pangan lokal tersebut, lanjut Sanusi, juga menjadi salah satu cara untuk mengenalkan keberagaman pangan kepada anak-anak.
Di sisi lain, penggunaan produk lokal diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi petani maupun pelaku UMKM di daerah.
Tak hanya menjelaskan komposisi menu, pihak SPPG Kepoh 2 juga memaparkan perhitungan kandungan nutrisi makanan yang didistribusikan kepada para penerima manfaat.
Sanusi memastikan setiap porsi telah melalui perhitungan kebutuhan gizi oleh tim terkait agar sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam penyelenggaraan program.
Sebagai bentuk keterbukaan informasi, berikut rincian kandungan energi dan protein menu MBG yang disajikan pada hari tersebut:
Porsi kecil untuk PAUD/SD: Energi mencapai 444,5 kilokalori (kkal) dengan kandungan protein 15,1 gram.
Porsi besar untuk SMP/SMA: Energi mencapai 706,4 kilokalori (kkal) dengan kandungan protein 21,6 gram.
Rincian tersebut disampaikan sebagai gambaran pemenuhan kebutuhan nutrisi berdasarkan kelompok penerima manfaat.
Menutup keterangannya, Sanusi menegaskan bahwa SPPG Kepoh 2 berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan dan tidak menutup diri terhadap kritik masyarakat.
Dia berharap komunikasi antara pengelola dapur, wali murid, dan masyarakat dapat terus terjalin secara terbuka.
Dengan begitu, berbagai kekurangan dapat segera diketahui dan diperbaiki demi mendukung keberhasilan program Makan Bergizi Gratis di wilayah Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro. (yin)






