Nasional

Jas Ijo, Pesan Presiden Prabowo di Muktamar NU ke-35 Jombang

amunisinews001
1
×

Jas Ijo, Pesan Presiden Prabowo di Muktamar NU ke-35 Jombang

Sebarkan artikel ini
IMG 20260830 WA0028

JOMBANG — Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pesan khusus tentang peran ulama saat membuka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, Kamis (27/8/2026).

Di hadapan ribuan peserta muktamar serta sejumlah tokoh nasional, Presiden Prabowo memperkenalkan istilah “Jas Ijo”, yang merupakan akronim dari “Jangan sekali-kali melupakan jasa ulama.”

Istilah itu disampaikan sebagai bentuk penghormatan terhadap kiai, ulama, santri dan pesantren yang menurut Prabowo mempunyai peran besar dalam perjuangan bangsa, baik ketika merebut maupun mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Prabowo kemudian mengaitkan “Jas Ijo” dengan semboyan yang dikenal luas dari Presiden pertama RI Soekarno, yakni “Jas Merah” atau “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”.

“Karena itu, kalau Bung Karno mengatakan Jas Merah, saya ingin menyampaikan Jas Ijo. Jangan sekali-kali melupakan jasa ulama,” kata Prabowo.

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya berbicara mengenai proklamasi di Jakarta.

Setelah kemerdekaan diproklamasikan, bangsa Indonesia masih harus menghadapi berbagai pertempuran untuk mempertahankan kemerdekaan.

Salah satu momentum yang disorot adalah Pertempuran Surabaya.

Prabowo menyebut kiai, santri, dan pesantren memiliki kontribusi besar dalam membangkitkan keberanian serta semangat perjuangan masyarakat.

Menurutnya, peran tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa yang tidak boleh dilupakan.

Prabowo juga memberikan perhatian khusus kepada para kiai kampung.

Ia menyebut keberadaan mereka sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, meskipun tidak selalu tercatat dalam sejarah formal ataupun mendapat sorotan media.

“Kiai kampung namanya mungkin tidak masuk majalah atau media, tetapi setiap hari mereka menjaga akhlak anak-anak kita, menjaga kerukunan antar umat, serta memelihara kedamaian di desa-desa tanpa meminta apa pun dari negara,” ujarnya.

Atas pengabdian tersebut, Prabowo menyampaikan penghormatan kepada seluruh ulama yang selama ini terus menjalankan peran sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.

“Hormat saya yang setinggi-tingginya kepada para ulama,” kata Prabowo.

Presiden juga mengangkat sejarah lagu Syubbanul Wathan karya KH Wahab Hasbullah.

Menurut Prabowo, lagu tersebut mencerminkan kuatnya semangat patriotisme dan nasionalisme yang telah tumbuh di lingkungan pesantren jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Dia menilai para pendiri NU telah membawa cita-cita besar untuk Indonesia.

Bangsa ini diharapkan menjadi negara yang terhormat, adil, makmur, serta mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan pandangan Prabowo bahwa perjalanan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi ulama, santri, kiai dan pesantren.

Pembukaan Muktamar ke-35 NU di Jombang turut dihadiri sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan lembaga negara, tokoh nasional, serta pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam. (aj)