Daerah

Pakubuwono XIV Ucapkan Selamat, Said Aqil Masuk AHWA NU

amunisinews001
2
×

Pakubuwono XIV Ucapkan Selamat, Said Aqil Masuk AHWA NU

Sebarkan artikel ini
IMG 20260831 WA0004

JOMBANG — Terpilihnya KPAA Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj sebagai salah satu anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mendapat perhatian dari Sri Susuhunan Pakubuwono XIV.

Ucapan selamat disampaikan Pakubuwono XIV melalui Juru Bicaranya, KPA Singonagoro II, S.H., CH., CHt., atas terpilihnya KH Said Aqil Siroj dalam sembilan ulama yang memperoleh dukungan terbanyak dalam pemilihan AHWA.

Menurut Singonagoro, posisi tersebut merupakan amanah besar sekaligus bentuk kepercayaan para ulama dan peserta Muktamar ke-35 NU terhadap pengalaman serta kapasitas KH Said Aqil Siroj.

“Sri Susuhunan Pakubuwono XIV menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada KPAA Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj atas terpilihnya beliau sebagai anggota AHWA Muktamar ke-35 NU,” ujar Singonagoro.

Ia menilai kehadiran KH Said Aqil Siroj di dalam AHWA diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran dalam proses musyawarah yang menjadi bagian penting dari penentuan kepemimpinan NU periode 2026–2031.

“Kami berharap Kyai Said dapat memberikan warna, kesejukan, kebijaksanaan, serta keputusan terbaik dalam proses Muktamar, khususnya dalam menentukan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU untuk periode mendatang,” katanya.

Said Aqil Raih 273 Suara
Muktamar ke-35 NU digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.

Forum tersebut menjadi salah satu momentum penting bagi NU dalam menentukan arah organisasi sekaligus kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmah 2026–2031.

Dalam pemilihan AHWA, sembilan ulama memperoleh dukungan suara terbanyak.

Berdasarkan hasil tabulasi yang dilaporkan NU Online, proses penghitungan suara rampung pada Ahad, 30 Agustus 2026.

KH Said Aqil Siroj berada di posisi kedelapan dengan perolehan 273 suara atau 5,80 persen.

Berikut sembilan ulama yang terpilih menjadi anggota AHWA:

1. KH Nurul Huda Djazuli (Ploso) — 485 suara

2. TGH KH Nuruzzahir Yahya (Waled NU) — 477 suara

3. AG Dr. KH Baharuddin HS, MA — 392 suara

4. KH Miftachul Akhyar — 350 suara

5. KH Afifuddin Muhajir — 339 suara

6. KH Anwar Iskandar — 326 suara

7. KH Amar Manshur (Lirboyo) — 303 suara

8. KPAA Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj — 273 suara

9. Dr. KH Abun Bunyamin, MA — 268 suara

Sembilan ulama tersebut selanjutnya memiliki peran penting dalam mekanisme AHWA untuk bermusyawarah menentukan Rais Aam PBNU serta arah kepemimpinan NU masa khidmah 2026–2031.

Di tengah ucapan selamat tersebut, Singonagoro juga menyampaikan harapan agar KH Said Aqil Siroj tidak berhenti pada posisi anggota AHWA.

Dengan nada bercanda, ia bahkan menyebut kemungkinan mantan Ketua Umum PBNU tersebut mendapat amanah menjadi Rais Aam PBNU.

“Kalau boleh sedikit menyampaikan harapan, tentu kami juga berharap nanti Kiai Said tidak hanya menjadi anggota AHWA. Siapa tahu beliau mendapat amanah untuk duduk sebagai Rais Aam PBNU. Amin,” ujarnya sembari tersenyum.

Singonagoro menegaskan, pernyataan tersebut merupakan doa dan harapan pribadi, bukan bentuk intervensi terhadap proses musyawarah para ulama.

Menurutnya, keputusan akhir tetap menjadi kewenangan para kiai yang tergabung dalam AHWA.

Siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin jajaran Syuriyah PBNU diharapkan mampu membawa NU ke arah yang semakin baik.

“Yang terpenting adalah siapa pun yang nantinya mendapat amanah, semoga merupakan pilihan terbaik para ulama untuk kemaslahatan NU, umat, bangsa dan negara. Kita hormati sepenuhnya proses musyawarah para kiai,” pungkasnya.

Mekanisme AHWA sendiri telah disepakati dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU.

Salah satu keputusan penting forum tersebut adalah penggunaan mekanisme AHWA dalam proses pemilihan Ketua Umum PBNU.

Kini, perhatian tertuju pada sembilan ulama terpilih tersebut.

Musyawarah AHWA akan menjadi tahapan krusial untuk menentukan sosok yang dipercaya mengemban amanah Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031 sekaligus turut menentukan arah perjalanan NU untuk lima tahun mendatang. (sul)