Daerah

Tradisi Gumbregan Sedulur Sikep Samin Bojonegoro Kembali Digelar

amunisinews001
5325
×

Tradisi Gumbregan Sedulur Sikep Samin Bojonegoro Kembali Digelar

Sebarkan artikel ini
IMG 20260619 WA0035

BOJONEGORO – Suasana hangat penuh kebersamaan mewarnai Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, saat masyarakat Sedulur Sikep Samin kembali menggelar tradisi Gumbregan pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa, Jumat (19/6/2026).

Tradisi masyarakat Samin di Bojonegoro yang telah diwariskan turun-temurun ini menjadi momentum untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus menghormati hewan ternak yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Bagi Sedulur Sikep Samin Bojonegoro, Gumbregan adalah tradisi sarat makna dan mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam dan hewan yang saling mendukung keberlangsungan kehidupan sehari-hari.

Hewan ternak seperti sapi, kerbau dan kambing dipandang bukan hanya sebagai aset ekonomi, tetapi juga sahabat yang membantu aktivitas pertanian dan pekerjaan warga.

Karena itu, penghormatan terhadap hewan menjadi salah satu nilai utama yang terus dijaga dalam tradisi tersebut.

Penerus ajaran Samin Surosentiko, Bambang Sutrisno, menjelaskan bahwa Gumbregan merupakan wujud rasa terima kasih kepada Tuhan atas segala nikmat yang diberikan, termasuk keberadaan hewan ternak yang telah membantu kehidupan masyarakat.

“Melalui Gumbregan, kami mengajarkan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus menanamkan nilai kasih sayang dan penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup yang ikut menopang kehidupan manusia,” katanya.

Menurut Bambang, pelaksanaan Gumbregan tahun ini juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya leluhur sekaligus memperkuat usulan tradisi tersebut agar dapat ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).

Rangkaian kegiatan dimulai dengan gotong royong warga menyiapkan berbagai sajian tradisional, seperti ketupat dan jadah ketan.

Kebersamaan tampak dalam setiap proses persiapan, mencerminkan kuatnya nilai solidaritas yang masih terjaga di tengah masyarakat Sedulur Sikep Samin.

Setelah seluruh hidangan selesai disiapkan, warga berkumpul mengikuti doa bersama yang dipimpin oleh Mbah Salam.

Doa dipanjatkan sebagai bentuk rasa syukur atas kesehatan, keselamatan, rezeki, dan keberkahan yang telah diterima selama setahun terakhir.

Usai prosesi doa, ketupat dan berbagai hidangan yang telah didoakan kemudian disantap bersama keluarga dan warga.

Tradisi makan bersama ini menjadi simbol persaudaraan, kebersamaan, serta rasa syukur yang mendalam.

Menariknya, sebagian makanan juga diberikan kepada hewan ternak sebagai bentuk penghargaan atas peran mereka dalam membantu kehidupan manusia.

Nilai inilah yang membuat Gumbregan memiliki keunikan tersendiri dibandingkan tradisi syukuran lainnya.

Pelaksanaan Gumbregan tahun ini turut mendapat perhatian dari berbagai kalangan.

Sejumlah pemerhati budaya Samin dari Yogyakarta, tim Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, serta budayawan dan pemerhati Samin Adi Sutarto hadir untuk menyaksikan langsung jalannya tradisi tersebut.

Di tengah perkembangan zaman dan arus modernisasi yang terus bergerak cepat, masyarakat Sedulur Sikep Samin tetap berkomitmen menjaga warisan leluhur yang sarat nilai kehidupan.

Tradisi Gumbregan menjadi bukti bahwa kearifan lokal tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga relevan sebagai pedoman dalam membangun kehidupan yang harmonis, penuh rasa syukur, dan selaras dengan lingkungan. (yin)