Daerah

Wabup Nurul Ungkap Fakta Mengejutkan: Jumlah Petani Bojonegoro Turun 40 Persen

amunisinews001
6776
×

Wabup Nurul Ungkap Fakta Mengejutkan: Jumlah Petani Bojonegoro Turun 40 Persen

Sebarkan artikel ini
IMG 20260428 WA0036

BOJONEGORO – Semangat penguatan sektor pertanian kembali digaungkan dalam kegiatan Gebyar Petroganik yang digelar PT Pupuk Indonesia, Selasa (27/4/2026) di Cafe Baresta, Bojonegoro.

Acara ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), termasuk Kepala DKPP dan Kepala Disperindag.

Kegiatan tersebut menjadi ajang apresiasi bagi para Kios Pupuk Lengkap (KPL) dan petugas verifikasi lapangan (verpal) yang menunjukkan kinerja terbaik dalam penyaluran pupuk bersubsidi.

Tercatat, sebanyak 62 KPL dan 28 verpal mendapatkan penghargaan atas kontribusi mereka dalam mendukung ketahanan pangan di daerah.

Manajer PT Pupuk Indonesia Wilayah Jatim 1 Region 3A, Sutikno Wahyu Dimas Adi Prakoso, memastikan bahwa ketersediaan pupuk bersubsidi di Bojonegoro dalam kondisi aman.

Ia menyebutkan, stok pupuk yang tersimpan di tiga gudang lini III mencukupi kebutuhan petani untuk musim tanam kedua hingga ketiga, khususnya periode April hingga Mei.

“Sebagian besar KPL di Bojonegoro sudah memiliki stok di atas satu ton. Artinya, para petani tidak perlu khawatir. Kami siap mendukung penuh distribusi pupuk bersubsidi untuk musim tanam saat ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa sekitar 85 persen dari total lebih dari 300 KPL di Bojonegoro telah memiliki stok yang memadai.

Hal ini menjadi sinyal positif bagi kelancaran distribusi pupuk di tengah meningkatnya kebutuhan petani.

Sementara itu, Wakil Bupati Nurul Azizah dalam sambutannya mengungkapkan capaian membanggakan sekaligus tantangan besar yang dihadapi sektor pertanian Bojonegoro.

Berdasarkan data PT Pupuk Indonesia, Bojonegoro kini menjadi daerah dengan tingkat penyerapan pupuk nitrogenik tertinggi kedua di Indonesia.

“Ini menunjukkan bahwa kesadaran petani terhadap pentingnya penggunaan pupuk sudah semakin baik,” jelasnya.

Namun di balik capaian tersebut, terdapat fakta yang cukup mengkhawatirkan.

Dalam kurun waktu lebih dari satu dekade, jumlah petani di Bojonegoro mengalami penurunan signifikan.

Dari 366.484 orang pada tahun 2013, turun menjadi 333.951 orang pada 2023, dan anjlok drastis menjadi 191.588 orang di tahun 2024.

“Artinya, hampir 40 persen petani kita berkurang dalam 10 tahun terakhir,” tegasnya.

Tak hanya itu, persoalan regenerasi petani juga menjadi sorotan.

Berdasarkan data terbaru tahun 2026, mayoritas petani di Bojonegoro didominasi usia lanjut, dengan lebih dari 134 ribu petani berusia di atas 64 tahun.

Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat transformasi menuju pertanian modern.

Salah satu langkah konkret adalah optimalisasi penggunaan alat mesin pertanian, seperti transplanter (mesin tanam padi), guna mengatasi keterbatasan tenaga kerja.

“Kalau tidak segera beralih ke sistem modern, anak muda tidak akan tertarik masuk ke sektor pertanian,” imbuhnya.

Di sisi lain, peluang pengembangan pupuk organik lokal juga dinilai menjanjikan.

Selain mendukung keberlanjutan pertanian, langkah ini diyakini mampu membuka lapangan kerja baru serta memperkuat ekonomi desa.

Kabar baik datang dari sektor produksi. Dalam setahun terakhir, produksi padi Bojonegoro mengalami lonjakan signifikan, dari 710 ribu ton menjadi 864 ribu ton.

Peningkatan ini menjadi prestasi tersendiri yang patut diapresiasi.

Meski demikian, ancaman kemarau panjang menjadi perhatian serius ke depan.

Pemerintah menghimbau para petani untuk lebih adaptif dalam menentukan jenis tanaman agar terhindar dari risiko gagal panen.

“Petani harus cermat memilih komoditas saat musim kemarau, supaya tetap produktif dan tidak merugi,” pungkas Wakil Bupati.

Dengan dukungan ketersediaan pupuk, modernisasi alat, serta kolaborasi berbagai pihak, Bojonegoro optimistis mampu menjaga ketahanan pangan sekaligus menghadapi tantangan sektor pertanian di masa mendatang. (Pro/yin)