Infotaiment

75 Akademisi Bojonegoro Bersatu, Ini Target INSPIRA RISBO

amunisinews001
7
×

75 Akademisi Bojonegoro Bersatu, Ini Target INSPIRA RISBO

Sebarkan artikel ini
IMG 20260811 WA0003

BOJONEGORO – Pembangunan daerah tak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik, kekuatan sumber daya manusia (SDM), budaya riset, inovasi, serta kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci penting untuk membawa Kabupaten Bojonegoro berkembang lebih cepat dan tepat sasaran.

Gagasan tersebut mengemuka dalam talkshow radio Malowopati FM bertajuk “Budaya Riset, Inovasi dan Kolaborasi dalam Mendukung Pembangunan Kabupaten Bojonegoro”, Senin (10/8/2026).

Talkshow tersebut menghadirkan tiga akademisi dari wadah Inspirasi Akademisi dan Periset Bojonegoro (INSPIRA RISBO), yakni Pembina INSPIRA RISBO Assoc. Prof. Dr. Sri Budi Cantika Yuli, M.M., Pengarah INSPIRA RISBO Dr. Ifa Khoiria Ningrum, M.M., serta Ketua Umum INSPIRA RISBO Dr. Ima Isnaini Taufiqur Rohmah, M.Pd. Acara dipandu host Iwan Siswoyo.

Momentum tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan HUT ke-1 INSPIRA RISBO.

Dalam kesempatan itu, komunitas akademisi tersebut memaparkan sejumlah agenda strategis yang disiapkan untuk memperkuat kontribusi terhadap pembangunan daerah.

Salah satu target yang tengah didorong adalah pembentukan Pojok Data INSPIRA, penguatan program pemberdayaan masyarakat, hingga peningkatan keterlibatan akademisi dalam program prioritas Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Kolaborasi tersebut diarahkan menyentuh berbagai persoalan strategis, mulai dari peningkatan angka partisipasi anak sekolah, pencegahan pernikahan usia dini, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), hingga berbagai isu pembangunan lain yang membutuhkan pendekatan berbasis data dan kajian.

Ketua Umum INSPIRA RISBO, Ima Isnaini Taufiqur Rohmah, menjelaskan bahwa komunitas tersebut lahir dari keinginan para akademisi dan praktisi perguruan tinggi swasta (PTS) di Bojonegoro untuk memberikan kontribusi yang lebih konkret bagi daerah.

Menurutnya, INSPIRA RISBO menjadi ruang bersama bagi para dosen, akademisi, praktisi, hingga generasi muda untuk bertukar gagasan dan membangun kolaborasi lintas disiplin ilmu.

“Sekarang sudah ada 75 anggota. Bukan hanya dosen, tetapi juga guru hingga fresh graduate dari berbagai disiplin ilmu. Bojonegoro punya banyak anak hebat yang perlu diberi ruang. Human capital merupakan fondasi dasar untuk membangun daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Sri Budi Cantika Yuli menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pembangunan daerah tidak semata-mata dilihat dari banyaknya infrastruktur yang dibangun.

Penguatan kualitas SDM dan perubahan pola pikir masyarakat juga harus menjadi perhatian.

Menurutnya, budaya riset perlu diperluas agar tidak berhenti di lingkungan kampus.

Masyarakat juga perlu dibiasakan mengambil keputusan berdasarkan data, kajian, serta evaluasi.

Ia mencontohkan persoalan stunting, penanganannya, kata dia, seharusnya tidak dilakukan sekedar berdasarkan asumsi, tetapi dimulai dengan data dasar, dilanjutkan kajian, penyusunan kesimpulan, pelaksanaan program dan evaluasi.

“Kalau masyarakat terbiasa dengan pola pikir berbasis riset, perumusan dan pelaksanaan kebijakan daerah akan jauh lebih efisien,” jelasnya.

Ia juga melihat Bojonegoro memiliki modal besar untuk mengembangkan ekosistem riset.

Terlebih, sejumlah anggota INSPIRA RISBO kini sedang menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral.

Cantika menekankan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan teknologi canggih.

Sebuah perubahan sederhana yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat juga merupakan bentuk inovasi.

Karena itu, semangat berbagi pengetahuan atau knowledge sharing dinilai penting untuk melahirkan kajian dan publikasi ilmiah yang tidak hanya berkualitas secara akademik, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Lebih jauh, ia menyebut pembangunan daerah membutuhkan kerja bersama melalui pendekatan hexa helix governance.

Pemerintah membutuhkan akademisi sebagai sumber pengetahuan dan kajian.

Sebaliknya, akademisi membutuhkan masyarakat sebagai ruang belajar sekaligus laboratorium sosial.

Dunia usaha membutuhkan hasil riset untuk dikembangkan, sementara media memiliki peran penting dalam menyebarluaskan informasi dan memperkuat jejaring kolaborasi.

“Tidak ada sebuah lembaga yang bisa berdiri sendiri. Pemerintah membutuhkan akademisi, akademisi membutuhkan masyarakat sebagai laboratorium sosial, dan dunia usaha membutuhkan hasil riset. Peran media juga membantu menyebarluaskan informasi. Kolaborasi inilah yang mempercepat pembangunan di Bojonegoro,” tandasnya.

Senada, Pengarah INSPIRA RISBO, Ifa Khoiria Ningrum, mengatakan komunitas tersebut dibangun untuk mempertemukan akademisi dari beragam bidang keilmuan.

Mulai dari pertanian, ekonomi, pendidikan, teknik, hingga berbagai disiplin ilmu lainnya didorong untuk saling bertukar perspektif dan menghasilkan gagasan yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.

Menurut Ifa, semangat tersebut sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

“Ruh dari akademisi adalah Tri Dharma Perguruan Tinggi. Di INSPIRA RISBO, kami menyatukan semangat tersebut dengan mengedepankan kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk memberi kontribusi positif bagi pembangunan Kabupaten Bojonegoro,” pungkasnya.

Dengan semakin kuatnya jejaring akademisi, riset, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan media, INSPIRA RISBO berharap budaya pembangunan berbasis data dan inovasi dapat semakin mengakar di Bojonegoro.

Bagi daerah, riset bukan sekadar produk akademik. Jika diterjemahkan menjadi kebijakan dan aksi nyata, riset dapat menjadi salah satu fondasi untuk memastikan pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. (yin)