Peristiwa

‎Sebelum Suapan Pertama Empat Siswa SD Di Lamongan Mual, Mau Menyajikan Makan Bergizi Gratis

orbitnasional333
3893
×

‎Sebelum Suapan Pertama Empat Siswa SD Di Lamongan Mual, Mau Menyajikan Makan Bergizi Gratis

Sebarkan artikel ini
Img 20251003 wa0060 copy 1280x749

LAMONGAN – Suasana ceria di SDN Kedukbembem, Kecamatan Mantup, Lamongan, mendadak berubah menjadi panik, pada Jum’at pagi (3/10/2025)

‎Empat siswa tiba-tiba mengeluh mual, pusing, dan kemudian muntah tepat di saat mereka hendak menikmati menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan pihak sekolah.

‎Tanpa menunggu lama, guru dan staf segera membawa mereka ke Puskesmas Mantup untuk mendapatkan penanganan medis.

‎Isu keracunan pun langsung merebak di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar.

‎Namun, dugaan tersebut langsung ditepis oleh pihak medis. Dokter Mita, yang menangani kasus ini, memastikan bahwa para siswa tidak mengalami keracunan makanan.

‎“Gejala muncul bahkan sebelum makanan disentuh, apalagi dimakan. Ini bukan keracunan, karena untuk menyebutnya begitu, tentu harus ada makanan yang masuk terlebih dahulu,” terang dr. Mita.

‎Ia menjelaskan bahwa tidak ada tanda-tanda demam, diare, atau gejala khas keracunan lainnya.

‎Justru, menurutnya, kondisi ini lebih mengarah pada reaksi psikologis anak-anak yang mungkin tidak menyukai aroma atau tampilan makanan yang disajikan.

‎“Baru dibuka saja, mereka sudah menunjukkan rasa tidak nyaman. Bisa jadi makanan tersebut asing bagi lidah mereka. Sekitar 75 persen kasus seperti ini biasanya dipicu rasa enggan atau jijik, bukan kontaminasi makanan,” tambahnya.

‎Program MBG merupakan salah satu langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak di sekolah.

‎Namun, insiden ini menunjukkan bahwa upaya pemenuhan gizi juga perlu diimbangi dengan pendekatan yang memahami selera dan kebiasaan makan anak.

‎Pemerintah daerah lain, seperti Kabupaten Gresik, telah membentuk Satgas Khusus untuk mengawal kelancaran distribusi dan kualitas MBG termasuk dalam hal penyusunan menu yang lebih ramah anak.

‎Meski hanya empat siswa yang terdampak dan dinyatakan dalam kondisi baik, kejadian ini menjadi pengingat penting.

‎Bahwa dalam menyuapi anak-anak dengan gizi, kita juga harus menyuapi mereka dengan pemahaman, pendekatan yang lembut, dan makanan yang bisa mereka terima tanpa rasa terpaksa.(Ded)