BOJONEGORO – Dunia pertanian di Bojonegoro tak lagi identik dengan pekerjaan kuno dan minim masa depan.
Di tangan anak muda Bojonegoro yang kreatif, sektor ini justru menjelma menjadi ladang peluang yang menjanjikan.
Hal itu dibuktikan oleh Adnan Buyung Nasution, pemuda asal Kecamatan Sukosewu, Bojonegoro, yang sukses menorehkan prestasi lewat inovasi di bidang pertanian.
Berkat gagasannya mengembangkan “Klinik Tani Wiragatama”, Adnan berhasil meraih Juara 1 Pemuda Pelopor Bojonegoro 2026 di bidang pangan.
Inovasi tersebut tak hanya berdampak bagi petani, tetapi juga membuka jalan bagi generasi muda untuk ikut terjun ke sektor agrikultur.
Dalam talkshow di Radio Malowopati FM, Rabu (29/4/2026), Adnan menegaskan bahwa pertanian memiliki masa depan cerah jika dikelola dengan pendekatan modern dan inovatif.
Ia ingin mematahkan stigma lama yang menganggap bertani sebagai pekerjaan yang kurang menarik.
“Pertanian itu menjanjikan, asalkan dikelola dengan cara yang tepat. Ini peluang besar bagi anak muda,” ujarnya.
Perjalanan Adnan dimulai sejak lulus SMA. Ia melihat langsung berbagai persoalan yang dihadapi petani, mulai dari mahalnya pupuk hingga rendahnya nilai jual hasil panen.
Kondisi itu justru memantik semangatnya untuk menghadirkan solusi nyata.
Pada 2025, bersama rekan-rekannya dan dukungan BUMDes, ia merintis program Klinik Tani Wiragatama.
Program ini menjadi ruang belajar, diskusi, sekaligus pusat solusi bagi petani dan generasi muda.
Berbeda dari kebiasaan lama, petani kini tidak lagi hanya berbincang santai tanpa arah.
Di Klinik Tani, mereka diajak mengidentifikasi masalah secara konkret dan mencari solusi bersama.
Salah satu hasilnya adalah inovasi nutrisi alternatif yang mampu menekan ketergantungan pada pupuk kimia.
Tak berhenti di situ, Klinik Tani juga mengembangkan riset pertanian.
Salah satu terobosannya adalah menciptakan varietas padi baru bernama “NU – Ndak Umum”.
Bibit ini merupakan hasil penggabungan beberapa varietas yang disesuaikan dengan kondisi tanah lokal, hasilnya pun signifikan.
Produktivitas lahan yang sebelumnya hanya berkisar 6–7 ton per hektare, kini mampu meningkat hingga mencapai 9,2 ton.
Dampak lain yang tak kalah penting adalah meningkatnya minat anak muda.
Melalui komunitas “Gen Tani”, sebanyak 22 pemuda yang sebelumnya awam kini mulai aktif belajar dan terlibat langsung dalam pertanian.
Klinik Tani berjalan secara berkelanjutan, dengan pendampingan harian serta pertemuan rutin dua mingguan.
Kolaborasi juga dijalin dengan komunitas Joglo Tani untuk menghadirkan pendamping dan narasumber berpengalaman.
Ke depan, Adnan berencana mengembangkan inovasi lain, termasuk penggunaan alat pertanian modern dan sistem hidroponik.
Ia juga menekankan bahwa profesi petani memiliki peran vital sebagai penopang ketahanan pangan nasional.
“Menjadi petani itu bukan pilihan terakhir, tapi justru profesi yang membanggakan,” tegasnya. (Yin)






