BOJONEGORO – Sebuah kandang ayam petelur di Desa Kaliombo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, menjadi bukti bahwa potensi desa mampu diolah menjadi kekuatan ekonomi yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Usaha Bakti Manunggal, usaha peternakan ayam petelur yang mulai dijalankan sejak 2021 kini berkembang pesat.
Tak hanya menghasilkan pendapatan bagi desa, BUMDesa juga membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, hingga mendukung pemberdayaan warga.
Saat ini, BUMDesa mengelola sekitar 2.000 ekor ayam petelur yang mampu menghasilkan rata-rata 100 kilogram telur setiap hari.
Produksi tersebut dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Desa (PAD) yang terus meningkat.
Tak berhenti pada produksi telur, BUMDesa juga mengembangkan unit usaha pembuatan pakan ayam dengan kapasitas sekitar 240 kilogram per hari.
Pakan tersebut dipasarkan ke peternak di Kecamatan Purwosari hingga berbagai wilayah di Kabupaten Bojonegoro.
Kehadiran pakan lokal berkualitas ini menjadi solusi bagi peternak karena menawarkan harga yang lebih terjangkau dibandingkan produk di pasaran, sehingga mampu menekan biaya produksi.
Peran BUMDesa semakin terasa melalui dukungannya terhadap Program GAYATRI (Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri).
Pengelola BUMDesa secara aktif memberikan pelatihan pembuatan pakan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM), sekaligus menyediakan pakan dengan harga lebih ekonomis.
Keberhasilan mengelola usaha peternakan juga menjadikan BUMDesa Usaha Bakti Manunggal sebagai lokasi belajar bagi masyarakat, kelompok peternak, maupun desa lain yang ingin mengembangkan usaha ayam petelur secara mandiri.
Dampak positif yang dihasilkan tidak hanya dirasakan dari sisi ekonomi.
Sebagian keuntungan usaha dialokasikan kembali untuk masyarakat melalui berbagai program sosial dan kegiatan kemasyarakatan yang dibiayai melalui dana tanggung jawab sosial (CSR) BUMDesa.
Ketua BUMDesa Usaha Bakti Manunggal, Lilik Sugiharto, menegaskan bahwa keberhasilan tersebut lahir dari kolaborasi seluruh elemen desa dalam mengelola potensi lokal secara profesional dan berkelanjutan.
“Kami ingin membuktikan bahwa BUMDesa bukan hanya tempat menjalankan usaha, tetapi menjadi wadah pemberdayaan masyarakat. Ketika usaha berkembang, manfaatnya kembali kepada warga melalui peningkatan pendapatan desa, pelatihan, penciptaan peluang usaha, hingga dukungan bagi kegiatan sosial kemasyarakatan. Inilah semangat kemandirian desa yang terus kami bangun bersama,” ujarnya.
Menurut Lilik, pengelolaan potensi desa yang dilakukan secara profesional mampu menciptakan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.
Ke depan, BUMDesa Usaha Bakti Manunggal berkomitmen memperluas pengembangan unit usaha agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi desa melalui inovasi dan pemberdayaan yang berkelanjutan. (Yin)










