Daerah

405 Siswa Belajar di Sekolah Rakyat Gresik, Khofifah Soroti Perundungan dan Homesick

amunisinews001
7838
×

405 Siswa Belajar di Sekolah Rakyat Gresik, Khofifah Soroti Perundungan dan Homesick

Sebarkan artikel ini
img 20260802 wa0073

GRESIK – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa pendidikan merupakan kunci utama untuk memutus mata rantai kemiskinan.

Penegasan tersebut disampaikan saat meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Gresik, Sabtu (1/8/2026), didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahurrahman.

Kunjungan berlangsung hangat dan penuh semangat, setibanya di lokasi, Khofifah disambut ratusan siswa yang mengibarkan bendera Merah Putih.

Suasana semakin meriah ketika gubernur bersama para siswa menyanyikan lagu-lagu perjuangan di halaman sekolah.

Dalam kesempatan itu, Khofifah mengaku senang dapat melihat langsung aktivitas para peserta didik di Sekolah Rakyat.

Menurutnya, lembaga pendidikan tersebut bukan hanya memberikan akses belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan dan kemandirian melalui sistem pendidikan berasrama.

“Program ini menjadi bentuk nyata kehadiran negara untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang sama, sekaligus menjadi investasi jangka panjang dalam memutus rantai kemiskinan,” ujarnya.

Selama kunjungan, Khofifah meninjau berbagai fasilitas pendukung, mulai dari kantin, masjid hingga aula sekolah.

Ia juga menyempatkan diri menyapa para siswa, berbincang dengan pengelola, serta menyerahkan bantuan kepada wali asrama dan tenaga pendukung yang bertugas di lingkungan sekolah.

Saat ini, Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Gresik menampung 405 siswa, terdiri atas 90 siswa jenjang SD, 90 siswa SMP, dan 225 siswa SMA.

Para siswa berasal dari 161 desa di 18 kecamatan se-Kabupaten Gresik, ditambah 60 siswa dari Kabupaten Lamongan.

Khofifah menjelaskan bahwa penyelenggaraan Sekolah Rakyat membutuhkan persiapan yang matang, terutama karena mengintegrasikan beberapa jenjang pendidikan dalam satu kawasan.

Selain itu, proses adaptasi anak-anak yang tinggal di asrama juga menjadi perhatian serius.

“Meyakinkan orang tua agar anak kelas 1 SD tinggal di asrama memang tidak mudah. Ada yang cepat beradaptasi, namun ada juga yang mengalami homesick. Anak-anak seperti ini membutuhkan pendampingan khusus agar merasa nyaman dan tetap semangat belajar,” jelasnya.

Gubernur juga memberikan perhatian khusus terhadap perlindungan anak di lingkungan sekolah.

Dia meminta seluruh pengelola memastikan Sekolah Rakyat benar-benar menjadi kawasan yang aman dan bebas dari praktik perundungan.

Dirinya menyampaikan, siswa usia sekolah dasar masih sangat rentan sehingga memerlukan pengawasan serta pendampingan yang lebih intensif.

Tak hanya itu, Khofifah mengusulkan agar pihak sekolah menghadirkan psikolog secara berkala, minimal sebulan sekali, guna memantau kondisi psikologis para siswa, khususnya anak-anak SD yang masih dalam tahap penyesuaian dengan kehidupan berasrama.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Gresik menyatakan komitmennya untuk terus mendukung keberlangsungan Sekolah Rakyat.

Program ini diharapkan mampu memperluas akses pendidikan berkualitas sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Gresik.

Dengan konsep pendidikan yang terintegrasi, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi harapan baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk meraih masa depan yang lebih baik sekaligus menjadi solusi nyata dalam mengurangi angka kemiskinan melalui jalur pendidikan. (az)