BOJONEGORO – Suasana khidmat menyelimuti Haul ke-2 dan rutinan Jumat Legi Mbah Mo Sari di Pendopo Pemakaman Umum Desa Tondomulo, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Jumat (7/8/2026).
Di tengah lantunan doa dan kebersamaan warga, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro, Hj. Mitro’atin, menyampaikan pesan yang mengajak masyarakat tidak sekedar mengenang orang yang telah berpulang, tetapi juga bercermin pada kehidupan sendiri.
Menurut Mitro’atin, haul semestinya menjadi momentum untuk mengingat bahwa kehidupan dunia memiliki batas.
Karena itu, selama masih diberi kesempatan hidup, setiap orang perlu mempersiapkan bekal amal untuk kehidupan setelah kematian.
“Alhamdulillah, hari ini saya bisa menghadiri Haul yang kedua Mbah Mo Sari. Mudah-mudahan kegiatan ini membawa keberkahan bagi kita semua,” ujar Mitro’atin saat mengawali tausiyah.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan kembali hadis Nabi Muhammad SAW mengenai tiga amalan yang pahalanya tetap mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia.
Pertama, sedekah jariyah,
Mitro’atin menjelaskan, sedekah jariyah merupakan amal yang manfaatnya dapat terus dirasakan orang lain.
Ketika manfaat tersebut tetap hidup dan digunakan, pahala dari amal itu diharapkan terus mengalir kepada orang yang mengerjakannya.
Kedua, ilmu yang bermanfaat,
ilmu yang diberikan kepada orang lain dan kemudian diamalkan juga dapat menjadi amal yang tidak terputus.
Karena itu, masyarakat didorong untuk terus menuntut ilmu sekaligus membagikan pengetahuan yang dimiliki agar membawa manfaat lebih luas.
Ketiga, anak saleh yang mendoakan orang tuanya, doa anak saleh menjadi salah satu bentuk kebaikan yang terus diharapkan sampai kepada orang tua yang telah meninggal.
Pesan ini sekaligus menegaskan pentingnya pendidikan agama, keteladanan dan pembentukan karakter di lingkungan keluarga.
Mitro’atin kemudian mengingatkan bahwa segala sesuatu yang melekat pada kehidupan dunia, termasuk jabatan, kekayaan dan kedudukan, pada akhirnya akan ditinggalkan.
Karena itu, menurutnya, kesempatan hidup seharusnya tidak disia-siakan.
“Selagi kita masih hidup, mari kita perbanyak amal. Jangan sampai kita baru ingat untuk berbuat baik ketika kesempatan hidup sudah tidak ada,” pesannya.
Ia juga berharap tradisi haul dan kegiatan rutin keagamaan di Desa Tondomulo terus dilestarikan.
Selain menjadi ruang untuk mendoakan para pendahulu, kegiatan tersebut dinilai memiliki peran penting dalam menjaga silaturahmi, mempererat persaudaraan, memelihara kerukunan, serta meningkatkan keimanan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Desa Tondomulo, Yanto, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Hj. Mitro’atin bersama masyarakat dalam kegiatan tersebut.
Dia berharap Haul ke-2 Mbah Mo Sari tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi terus menjadi tradisi positif yang mampu menjaga kebersamaan dan persaudaraan warga Desa Tondomulo.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua DPC Partai Golkar Kecamatan Kedungadem, Kepala Desa Tondomulo bersama perangkat desa, Ketua BPD dan anggota, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga Desa Tondomulo.
Rangkaian acara berlangsung dengan suasana khidmat, tausiyah Mitro’atin menjadi salah satu bagian penting yang mengajak warga menjadikan momentum haul sebagai bahan introspeksi.
Bukan hanya mengingat mereka yang telah meninggalkan dunia, tetapi juga menyadari bahwa setiap orang yang masih hidup memiliki kesempatan untuk memperbanyak amal, menebar manfaat dan mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat. (yin)






