Ragam

Upacara Tiga Bulanan di Buleleng, Simbol Kuat Identitas Budaya Bali

amunisinews001
6758
×

Upacara Tiga Bulanan di Buleleng, Simbol Kuat Identitas Budaya Bali

Sebarkan artikel ini
IMG 20260426 WA0015

BULELENG — Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi, masyarakat Buleleng, Bali terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga warisan leluhur.

Salah satunya tampak dalam pelaksanaan upacara tiga bulanan atau ritual 105 hari bagi bayi yang digelar di wilayah Tunggawisia, Kabupaten Buleleng, Minggu (26/4/2026).

Upacara ini bagian penting dari rangkaian panjang kehidupan manusia menurut ajaran Hindu di Bali.

Prosesi dimulai sejak masa kehamilan melalui ritual megedong-gedongan, dilanjutkan dengan upacara pasca kelahiran, hingga akhirnya mencapai tahap tiga bulanan saat bayi berusia 105 hari.

Dalam prosesi tersebut, bayi diyakini memasuki fase penting dalam perjalanan spiritualnya.

Upacara dilakukan sebagai bentuk penyucian diri sekaligus simbol pengenalan bayi terhadap kehidupan dunia secara sakral.

Suasana khidmat terasa sepanjang prosesi, keluarga besar bersama tokoh adat turut terlibat, mempersiapkan berbagai sarana upacara seperti sesajen, tirta suci, serta perlengkapan ritual lainnya sesuai dengan tuntunan agama Hindu Bali.

Menariknya, di tengah kemajuan era digital dan kecerdasan buatan (AI), tradisi ini tetap dijaga dengan penuh kesadaran.

Bagi masyarakat Buleleng, Bali, ritual seperti ini bukan hanya kewajiban spiritual, tetapi juga identitas budaya yang harus dilestarikan lintas generasi.

Setelah upacara tiga bulanan, rangkaian berikutnya yang akan dijalani adalah upacara enam bulanan atau 210 hari.

Pada tahap ini, bayi biasanya untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan tanah, sebuah momen sakral yang menandai keterhubungannya dengan alam.

Prosesi ini juga kerap disertai ritual potong rambut sebagai simbol penyucian lanjutan.

Melalui tradisi yang terus dijaga ini, masyarakat Buleleng, Bali berharap nilai-nilai luhur budaya dan ajaran agama tetap hidup, sekaligus memperkuat jati diri di tengah perubahan zaman yang kian cepat. (why)