Infotaiment

Alun-Alun Bojonegoro Dipasang Lubang Biopori, Ini Manfaatnya

amunisinews001
8956
×

Alun-Alun Bojonegoro Dipasang Lubang Biopori, Ini Manfaatnya

Sebarkan artikel ini
IMG 20260227 WA0015

BOJONEGORO – Upaya menjaga kelestarian lingkungan terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Kali ini, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bojonegoro (DLH) mengambil langkah konkret dengan memasang lubang resapan biopori di kawasan Alun-Alun Bojonegoro, Rabu (26/02/2026).

Langkah ini menjadi bagian dari strategi pengendalian air limpasan sekaligus upaya menciptakan ruang terbuka publik yang lebih ramah lingkungan dan minim genangan saat musim hujan.

Pembuatan lubang biopori dilakukan dengan mengebor tanah secara vertikal.

Lubang tersebut kemudian dipasang pipa PVC berlubang dan diisi dengan sampah organik.

Mempercepat peresapan air hujan ke dalam tanah.
Mengaktifkan mikroorganisme dan biota tanah yang membentuk pori-pori alami.

Dengan sistem ini, air tidak lagi mengalir di permukaan dan menimbulkan genangan, melainkan langsung terserap ke dalam tanah.

Kepala DLH Kabupaten Bojonegoro, Luluk Alifah, menegaskan bahwa pemasangan biopori bukan sekadar proyek teknis, tetapi bagian dari strategi menjaga keseimbangan ekosistem kota.

“Tujuan utamanya meningkatkan daya resap air hujan agar genangan di titik keramaian bisa diminimalisir. Ini juga menjadi edukasi langsung bagi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan limbah organik dari hulu,” jelasnya.

Menurutnya, manfaat biopori tidak hanya berhenti pada pengendalian air.

Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang akan terurai menjadi kompos alami melalui bantuan mikroorganisme dan cacing tanah.

Proses ini sekaligus meningkatkan kesuburan tanah di area hijau alun-alun.

Konservasi Air dan Pengolahan Sampah Sekaligus
Sistem biopori memberikan manfaat ganda antara lain, konservasi air tanah di kawasan perkotaan.

Pengolahan sampah organik menjadi kompos alami.

Peningkatan kualitas dan kesuburan tanah.

Dengan konsep ini, alun-alun tak hanya berfungsi sebagai ruang rekreasi masyarakat, tetapi juga sebagai “paru-paru kota” yang bekerja optimal secara ekologis.

DLH berharap langkah ini dapat diikuti oleh instansi lain, perkantoran, hingga kawasan pemukiman padat penduduk.

Penerapan biopori dinilai sebagai solusi sederhana, murah, namun berdampak besar terhadap pengurangan genangan dan pengelolaan sampah organik.

“Harapannya, alun-alun tetap nyaman digunakan meski musim penghujan. Lebih dari itu, kita ingin membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan dimulai dari langkah kecil,” pungkas Luluk.

Dengan inovasi ini, Bojonegoro menunjukkan keseriusannya dalam membangun kota yang lebih hijau, adaptif terhadap perubahan cuaca, dan berkelanjutan untuk masa depan. (yin)