Nasional

IHSG dan Rupiah Tertekan, FINE Institute Soroti Rapuhnya Struktur Pasar Modal Indonesia

amunisinews001
8735
×

IHSG dan Rupiah Tertekan, FINE Institute Soroti Rapuhnya Struktur Pasar Modal Indonesia

Sebarkan artikel ini
IMG 20260518 WA0000

JAKARTA – Tekanan hebat yang menghantam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah sepanjang 4–13 Mei 2026 dinilai bukan sekedar gejolak pasar biasa.

Kondisi tersebut disebut menjadi sinyal kuat bahwa struktur pasar modal Indonesia masih rapuh dan sangat bergantung pada arus modal asing.

Analis Ekonomi Politik Pasar Saham sekaligus Co-Founder FINE Institute, Kusfiardi, menilai koreksi pasar pasca MSCI Rebalancing Mei 2026 memperlihatkan lemahnya daya tahan pasar keuangan domestik terhadap tekanan global.

Menurutnya, pasar modal Indonesia masih berada dalam posisi dependent emerging market, yakni kondisi ketika stabilitas pasar sangat dipengaruhi sentimen investor asing, aliran dana global, hingga perubahan persepsi risiko internasional.

“Masalah terbesar pasar modal Indonesia bukan hanya volatilitas jangka pendek, tetapi struktur ketergantungan terhadap modal asing yang masih sangat tinggi,” ujar Kusfiardi dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan, perubahan bobot saham Indonesia dalam indeks global MSCI memicu aksi jual besar-besaran dari dana pasif global dan ETF berbasis indeks.

Karena dana tersebut bergerak mengikuti benchmark secara otomatis, perubahan kecil dalam indeks global bisa langsung memicu capital outflow besar dari pasar domestik.

Dampaknya, tekanan tidak hanya terjadi pada IHSG, tetapi juga terhadap nilai tukar rupiah akibat konversi dana asing ke dolar AS.

Kusfiardi menyebut kondisi tersebut menunjukkan market depth atau kedalaman pasar Indonesia masih dangkal.

Akibatnya, pasar domestik belum mampu menyerap tekanan eksternal secara mandiri.

“Dominasi foreign flow membuat transmisi volatilitas global menjadi jauh lebih besar karena likuiditas domestik belum cukup kuat,” katanya.

Dia juga menyoroti bahwa pengaruh MSCI terhadap pasar Indonesia kini sangat besar, meski lembaga tersebut tidak memiliki kewenangan formal di Indonesia.

Menurutnya, kekuatan utama MSCI berada pada pengaruhnya terhadap perilaku investor global dan alokasi modal internasional.

“Secara hukum MSCI memang bukan regulator Indonesia, tetapi secara riil memiliki pengaruh besar terhadap persepsi investability pasar Indonesia,” tegasnya.

Dalam situasi seperti ini, Kusfiardi menilai peran lembaga keuangan nasional menjadi sangat vital.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebut tidak hanya bertugas sebagai regulator, tetapi juga penjaga kepercayaan investor dan stabilitas pasar.

Sementara Bursa Efek Indonesia (BEI) berfungsi menjaga likuiditas dan memastikan perdagangan saham tetap berjalan teratur di tengah tekanan foreign outflow.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) dinilai memegang peran penting sebagai penahan guncangan nilai tukar atau FX shock absorber.

“Intervensi BI bukan sekedar menjaga kurs rupiah, tetapi menjaga stabilitas makrofinansial agar tekanan eksternal tidak berkembang menjadi risiko sistemik,” jelasnya.

Kusfiardi juga menilai keberadaan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sangat penting dalam menjaga integritas sistem transaksi dan administrasi pasar selama periode gejolak berlangsung.

Meski demikian, ia menegaskan langkah stabilisasi jangka pendek saja tidak cukup untuk memperkuat pasar modal Indonesia.

FINE Institute mendorong reformasi struktural secara serius, mulai dari peningkatan free float saham, penguatan investor institusional domestik, pendalaman market depth, hingga perbaikan tata kelola emiten.

Menurut Kusfiardi, penguatan investor domestik menjadi kunci utama dalam membangun kedaulatan finansial pasar modal Indonesia.

“Financial sovereignty bukan berarti menutup diri dari modal asing, tetapi membangun kekuatan institusional domestik agar pasar nasional tidak sepenuhnya ditentukan foreign capital dan sentimen global,” ungkapnya.

Dirinya menambahkan, gejolak Mei 2026 seharusnya menjadi momentum evaluasi besar bagi arah pengembangan pasar modal nasional di tengah meningkatnya fragmentasi ekonomi global.

“Tantangan terbesar Indonesia bukan hanya menjaga IHSG tetap hijau, tetapi membangun pasar yang lebih dalam, kredibel, dan memiliki daya tahan kuat terhadap guncangan modal global,” pungkasnya. (dpw)