Infotaiment

Asesor UNESCO Terpukau, Batik dan Geosite Bojonegoro Curi Perhatian Dunia

amunisinews001
9482
×

Asesor UNESCO Terpukau, Batik dan Geosite Bojonegoro Curi Perhatian Dunia

Sebarkan artikel ini
img 20260730 wa0043

BOJONEGORO – Proses asesmen lapangan dan validasi aspiring UNESCO Global Geopark (aUGGp) Bojonegoro memasuki hari kedua, Rabu (29/7/2026).

Tim asesor internasional yang terdiri dari Mr. Andreas Josef Schüller asal Jerman dan Ms. Li Yue dari China diajak menelusuri kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, hingga warisan budaya yang menjadi kebanggaan Kabupaten Bojonegoro.

Dalam kunjungan tersebut, tim asesor mendatangi enam lokasi unggulan yang mewakili geosite, biosite, dan cultural site Geopark Bojonegoro.

Rangkaian perjalanan dimulai dari Geosite Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, dilanjutkan ke Omah Batik Mak Ni di Desa Jono, Kecamatan Temayang, Biosite Hutan Jati Gondang, Geosite Banyu Kuning di Desa Krondonan, Geosite Negeri Atas Angin di Desa Deling, Kecamatan Sekar, sebelum menutup perjalanan di kawasan wisata Kayangan Api.

Di Geosite Kedung Lantung, asesor melihat langsung fenomena alam berupa rembesan minyak bumi yang muncul secara alami di aliran sungai.

Fenomena langka ini menjadi salah satu bukti kekayaan sistem perminyakan darat yang menjadi tema utama Geopark Bojonegoro.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Omah Batik Mak Ni, sentra batik khas Bojonegoro.

Di lokasi ini, Mr. Andreas Josef Schüller mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan dengan mencoba membuat batik menggunakan teknik cap.

“This is the first time,” ujar Andreas dengan penuh antusias saat mencetak motif batik khas Bojonegoro.

Momen tersebut semakin menarik karena bertepatan dengan kegiatan ekstrakurikuler membatik yang diikuti puluhan siswi SMKN Temayang.

Sekitar 60 cap motif batik tersusun rapi di ruang produksi dan menjadi bukti kekayaan motif batik lokal yang terus dilestarikan.

Selanjutnya, tim menuju Biosite Hutan Jati Gondang untuk menyaksikan keberadaan anggrek endemik langka Dendrobium capra yang tumbuh pada pohon jati berusia lebih dari setengah abad.

Tim Teknis Geopark Bojonegoro, Laily Agustina, menjelaskan bahwa keberadaan anggrek tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Bojonegoro karena habitatnya sangat terbatas.

“Anggrek endemik ini tumbuh pada pohon jati yang berusia lebih dari 50 tahun,” jelasnya sambil memperlihatkan flora tersebut melalui siaran langsung menggunakan perangkat digital.

Pelestarian habitat anggrek langka ini dilakukan melalui kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Perhutani, serta dosen dan peneliti Universitas Bojonegoro (Unigoro), sehingga keberadaannya tetap terjaga.

Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Geosite Banyu Kuning di Desa Krondonan.

Lokasi ini menyajikan fenomena endapan besi yang melapisi bebatuan di dasar sungai sehingga menghasilkan warna kuning kemerahan yang unik dan menjadi daya tarik geowisata.

Sore harinya, rombongan menikmati panorama Geosite Negeri Atas Angin di Desa Deling yang terkenal dengan lanskap pegunungan yang memukau.

Dalam perjalanan kembali, tim juga melintasi kawasan Gunung Lawang sebelum mengakhiri asesmen lapangan di destinasi legendaris Kayangan Api.

Ketua Tim Asesor Geopark Nasional, Hanang Samodra, mengingatkan bahwa perjuangan tidak berhenti ketika Bojonegoro nantinya berhasil memperoleh pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.

Menurutnya, tantangan terbesar justru menjaga kualitas kawasan agar tetap memenuhi standar UNESCO karena evaluasi akan dilakukan setiap empat tahun sekali.

“Yang paling sulit adalah mempertahankan status tersebut,” pesannya.

Ia berharap seluruh pihak terus menjaga komitmen terhadap tiga pilar utama geopark, yakni konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat, sehingga warisan geologi, hayati dan budaya Bojonegoro tetap lestari untuk generasi mendatang.

Saat ini, calon UNESCO Global Geopark Bojonegoro memiliki 20 situs geologi yang tersebar di berbagai wilayah dengan mengusung tema “The Unique Petroleum System on Land”, sebuah konsep yang menegaskan keunikan sistem perminyakan darat sebagai identitas utama Geopark Bojonegoro di mata dunia. (yin)