Infotaiment

Asbes Disebut Picu Kanker, FPTHSI dan KSPI Edukasi Cara Lindungi Keluarga

8871
×

Asbes Disebut Picu Kanker, FPTHSI dan KSPI Edukasi Cara Lindungi Keluarga

Sebarkan artikel ini
img 20260711 wa0019

JAKARTA – Kesadaran masyarakat terhadap bahaya asbes dinilai masih perlu terus ditingkatkan.

Berangkat dari kondisi tersebut, Forum Pendidik Tenaga Honorer Swasta Indonesia (FPTHSI) bersama Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan Reformasi Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (FSP FARKES KSPI) menggelar sosialisasi bertema “Kenali Bahayanya, Lindungi Diri dan Keluarga” di Rumah Honorer atau Rumah Kaum Jayakarta, Sabtu (11/7/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman masyarakat mengenai risiko paparan serat asbes yang dapat memicu berbagai penyakit serius.

Selain memberikan edukasi, kegiatan tersebut juga mengajak masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan material yang berpotensi membahayakan kesehatan serta lebih peduli terhadap keselamatan lingkungan.

Acara dibuka oleh Ketua Umum FPTHSI Hamdi Zaenal, Presiden FSP FARKES KSPI Idris Idham, dan Wakil Presiden KSPI Kahar S. Cahyono.

Ketiganya menekankan bahwa persoalan bahaya asbes bukan hanya menjadi isu kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan organisasi masyarakat, serikat pekerja, tenaga pendidik, hingga komunitas lingkungan agar edukasi dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

Dalam keynote speech, Dewan Pembina FPTHSI sekaligus anggota Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) KSPI, Dr. H. Didi Suprijadi, M.M., menegaskan bahwa perlindungan kesehatan masyarakat harus berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan.

Menurutnya, pembangunan yang berkelanjutan tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga harus memastikan keselamatan manusia melalui penggunaan material yang lebih aman serta memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai dampak bahan berbahaya, termasuk asbes.

Sesi utama sosialisasi disampaikan Sekretaris Jenderal FSP FARKES KSPI, Siswo Darsono.

Ia memaparkan bahwa paparan serat asbes dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius, seperti penyakit paru kronis, kanker paru, hingga mesothelioma.

Yang perlu diwaspadai, lanjutnya, dampak tersebut sering kali tidak muncul secara langsung.

Gejala baru dapat dirasakan bertahun-tahun setelah seseorang terpapar, sehingga banyak kasus terlambat terdeteksi.

Sementara itu, Prof. Agus Kusman dari FPTHSI menyoroti pentingnya peran dunia pendidikan dalam membangun budaya sadar kesehatan sejak dini.

Menurutnya, edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan merupakan investasi jangka panjang agar masyarakat semakin memahami risiko penggunaan asbes serta mampu mengambil langkah pencegahan.

Kegiatan ini juga dihadiri Aisyah Fauziah sebagai perwakilan Training Trainer Module (TTM) KSPI dan Rizka Septiana dari program Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) KSPI.

Kehadiran keduanya memperkuat sinergi lintas program dalam mendorong edukasi keselamatan dan kesehatan kerja yang inklusif serta dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Melalui sosialisasi tersebut, FPTHSI dan FSP FARKES KSPI berharap masyarakat semakin memahami bahaya paparan asbes, mampu mengenali potensi risikonya, serta menerapkan langkah-langkah pencegahan untuk melindungi diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan sekitar.

Sosialisasi ini juga menjadi simbol komitmen bersama antara organisasi profesi, serikat pekerja, komunitas pendidikan dan pegiat lingkungan dalam membangun lingkungan kerja serta lingkungan hidup yang sehat, aman dan bebas dari ancaman paparan asbes.

Dengan mengusung semangat “Kenali Bahayanya, Lindungi Diri dan Keluarga”, FPTHSI dan FSP FARKES KSPI berharap gerakan ini menjadi pemicu meningkatnya kepedulian publik terhadap bahaya asbes sekaligus mendorong lahirnya lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (dpw)