Daerah

Ngangsu Kawruh Samin, Warisan Sedulur Sikep Terus Hidup di Bojonegoro

amunisinews001
8840
×

Ngangsu Kawruh Samin, Warisan Sedulur Sikep Terus Hidup di Bojonegoro

Sebarkan artikel ini
IMG 20260621 WA0023

BOJONEGORO – Warisan budaya Sedulur Sikep Samin Bojonegoro kembali menjadi pusat perhatian dalam kegiatan Ngangsu Kawruh Samin yang digelar sebagai bagian dari peringatan Satu Dekade Samin Festival 2026.

Bertempat di halaman Balai Budaya Samin, Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (20/6/2026), kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama untuk menggali dan merawat nilai-nilai luhur ajaran Samin yang telah diwariskan lintas generasi.

Mengusung tema “Sabare Dieling-eling, Trokale Dilakoni”, kegiatan tersebut dihadiri akademisi, mahasiswa, pegiat budaya, guru, pemerhati Samin, hingga masyarakat umum.

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sejak awal acara, mencerminkan semangat persaudaraan yang selama ini menjadi identitas kuat masyarakat Sedulur Sikep.

Kemeriahan kegiatan diawali dengan penampilan kesenian Oklik khas Bojonegoro.

Seni tradisional yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2025 itu sukses menghidupkan suasana sekaligus menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya lokal masih terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Sadari, menegaskan bahwa kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang perjalanan masyarakat.

Menurutnya, memahami budaya berarti memahami nilai, pengalaman, dan strategi hidup yang berkembang dari masa ke masa.

“Kebudayaan selalu memiliki akar sejarah. Apa yang kita lihat hari ini merupakan hasil perjalanan panjang yang membentuk karakter dan identitas masyarakat,” ujarnya.

Senada dengan itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Lukiswati, mengapresiasi semangat masyarakat dalam menjaga keberlangsungan budaya Samin.

Ia menilai suasana yang guyub, adem, dan penuh kebersamaan dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai Sedulur Sikep masih hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.

Menurutnya, kekuatan budaya Samin terletak pada implementasi nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Kejujuran, kesederhanaan, kerja keras, serta penghormatan kepada sesama menjadi pondasi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam kesempatan itu, Lukiswati juga menyinggung capaian penting Bojonegoro yang kini menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark.

Dia menjelaskan bahwa unsur budaya, termasuk budaya Samin, menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam proses penilaian geopark dunia.

Dirinya mengungkapkan, dalam waktu mendatang tim penilai internasional dari Jerman dan China dijadwalkan berkunjung untuk melihat langsung kekayaan budaya yang dimiliki Bojonegoro, termasuk kehidupan dan tradisi masyarakat Sedulur Sikep.

“Kami berharap kunjungan tersebut dapat semakin memperkenalkan budaya Samin ke tingkat internasional sekaligus memperkuat citra positif Bojonegoro di mata dunia,” katanya.

Upaya pelestarian budaya terus dilakukan pemerintah daerah, setelah budaya Samin ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2019, tahun ini Pemkab Bojonegoro kembali mengusulkan tradisi Gumbregan agar mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional.

Sementara itu, Bambang Sutrisno, generasi kelima Samin Surosentiko, menjelaskan bahwa perkembangan zaman tidak mengubah esensi ajaran yang diwariskan leluhur Sedulur Sikep.

Menurutnya, perubahan hanya terjadi pada aspek fisik kehidupan masyarakat, sementara nilai-nilai utama tetap dijaga.

Ia mencontohkan perkembangan Dusun Jepang yang kini telah memiliki infrastruktur lebih baik dibanding masa lalu.

Namun kemajuan tersebut tidak menghilangkan prinsip-prinsip hidup yang selama ini menjadi pegangan masyarakat Samin.

Bambang juga mengingatkan pesan Samin Surosentiko mengenai makna kemerdekaan sejati.

Menurut ajaran tersebut, kemerdekaan akan terwujud ketika pemimpin dan rakyat sama-sama menjalankan kewajiban serta mematuhi aturan dengan penuh tanggung jawab.

Ajaran Samin mengajarkan pentingnya bekerja keras, menanam kebaikan, menjaga kejujuran dan menghormati hak milik orang lain.

Nilai-nilai itulah yang dahulu menjadi dasar perlawanan masyarakat terhadap penjajahan tanpa menggunakan kekerasan.

Dari semangat perjuangan damai tersebut lahirlah identitas Sedulur Sikep, sebuah komunitas yang menjunjung tinggi persaudaraan, kesetaraan, serta keteguhan dalam mempertahankan nilai kebenaran.

Melalui Ngangsu Kawruh Samin dalam rangkaian Satu Dekade Samin Festival 2026, sejarah perjuangan, filosofi hidup, dan kearifan lokal Sedulur Sikep kembali diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa warisan budaya bukan sekedar peninggalan masa lalu, melainkan sumber nilai yang tetap relevan untuk dijaga, dipahami, dan diwariskan kepada generasi masa depan sebagai bagian penting dari identitas Bojonegoro. (yin)