Ragam

‎Jalan Poros Sukodadi–Pucuk–Babat Jalur Neraka Yang Dibiarkan Pemerintah Mati Total

amunisinews001
1030
×

‎Jalan Poros Sukodadi–Pucuk–Babat Jalur Neraka Yang Dibiarkan Pemerintah Mati Total

Sebarkan artikel ini
Shotcom 1760879220983

LAMONGAN – Jika ada penghargaan untuk jalan negara yang paling diabaikan, mungkin jalan poros Sukodadi–Pucuk–Babat bisa menyabet gelar itu tanpa saingan, Minggu (19/20/2025)

‎Bagaimana tidak? Jalan utama penghubung antar-kecamatan ini kini berubah menjadi jalur maut tanpa penerangan, berlubang, dan tak terurus seolah tak pernah disentuh tangan pemerintah.

‎Warga menyebutnya “jalan hantu”, bukan tanpa alasan. Di malam hari, jalur ini benar-benar gelap gulita tanpa satu pun lampu jalan yang berfungsi.

‎Tidak hanya rawan kecelakaan, tetapi juga menjadi titik rawan kriminal karena penerangan yang nihil.

‎Ironisnya, keluhan masyarakat selama bertahun-tahun hanya dibalas dengan diam membisu dari Dinas Perhubungan setempat.

‎Kinerja Dinas Perhubungan Kabupaten Lamongan dan bahkan Provinsi Jawa Timur patut dipertanyakan.

‎Alih-alih melakukan perbaikan, mereka justru terkesan tidak peduli, tidak turun lapangan, dan seolah buta terhadap penderitaan pengguna jalan.

‎Sebagian warga bahkan menyindir bahwa pegawai Dishub mungkin hanya sibuk nongkrong di kantor ber-AC, menikmati gaji dari pajak rakyat tanpa benar-benar menjalankan fungsinya.

‎“Sudah seperti hutan lindung saja. Gelap, sepi, penuh bahaya. Kalau bukan karena terpaksa, orang ogah lewat situ malam-malam,” ujar salah satu pengendara yang pernah nyaris celaka akibat lubang besar yang tak terlihat.

‎Data lapangan dari warga menunjukkan telah terjadi belasan kecelakaan ringan hingga berat dalam beberapa bulan terakhir, yang sebagian besar disebabkan oleh jalan rusak dan minimnya penerangan.

‎Namun sayangnya, tidak ada satu pun tindakan cepat yang dilakukan oleh pemerintah daerah maupun provinsi.

‎Warga mulai kehilangan kesabaran. Seruan untuk memecat pejabat Dishub yang tidak bekerja mulai menggema di media sosial.

‎Mereka menilai, sudah saatnya pemerintah pusat melakukan evaluasi besar-besaran terhadap kinerja aparatur di daerah yang selama ini hanya menikmati jabatan tanpa menunjukkan hasil nyata di lapangan.

‎Wajar jika publik marah. Gaji pegawai pemerintah berasal dari keringat rakyat melalui pajak.

‎Namun jika pelayanan yang diberikan justru membahayakan nyawa masyarakat, maka rakyat pun punya hak untuk bersuara keras, bahkan menuntut pergantian total pejabat yang tidak kompeten.

‎Kasus ini tidak bisa dianggap sepele. Jika pemerintah daerah sudah gagal dan tidak menunjukkan itikad baik.

‎maka Presiden Republik Indonesia dan Menteri Perhubungan harus turun tangan langsung. Keselamatan rakyat tidak bisa ditukar dengan kenyamanan pejabat lokal yang malas.

‎Sampai kapan jalan ini akan dibiarkan jadi tempat pembantaian sunyi di malam hari. (ded)