Daerah

73 Desa Rawan Kekeringan, Pemkab Bojonegoro Perkuat HIPPAM

amunisinews001
8738
×

73 Desa Rawan Kekeringan, Pemkab Bojonegoro Perkuat HIPPAM

Sebarkan artikel ini
IMG 20260506 WA0063

BOJONEGORO – Bojonegoro bergerak cepat menghadapi ancaman musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih panjang akibat fenomena El Nino.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro mulai memperkuat langkah antisipasi melalui pembinaan Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) sekaligus pemetaan mitigasi dampak kekeringan.

Kegiatan strategis ini digelar di Ruang Angling Dharma, Gedung Pemkab Bojonegoro, Rabu (6/5/2026), dengan melibatkan para camat, kepala desa, 73 pengurus HIPPAM dari 20 kecamatan, perwakilan PDAM, serta sejumlah pihak terkait.

Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menegaskan bahwa akses air bersih menjadi kebutuhan mendasar yang tidak bisa ditawar.

Ia mengingatkan bahwa tanda-tanda musim kemarau sudah mulai terasa sejak Mei, dengan potensi puncak kekeringan ekstrem diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September.

“Persoalan air adalah hal vital. Kita harus siap sejak sekarang, karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Pemkab Bojonegoro sendiri telah mengidentifikasi 73 desa yang masuk kategori rawan kekeringan.

Desa-desa ini menjadi prioritas penanganan melalui perencanaan terpadu, mulai dari program jangka pendek hingga jangka panjang.

Tak hanya itu, pemerintah juga melakukan penyisiran detail untuk mengetahui kebutuhan teknis di lapangan, termasuk skema distribusi air bersih selama musim kemarau.

Upaya ini dilakukan secara terintegrasi bersama BPBD Bojonegoro agar respons penanganan bisa lebih cepat dan tepat sasaran.

Kepala Dinas PU Cipta Karya Bojonegoro, Satito Hadi, menekankan bahwa peran HIPPAM sangat penting sebagai ujung tombak pelayanan air bersih di tingkat desa.

Karena itu, peningkatan kapasitas kelembagaan menjadi fokus utama dalam kegiatan ini.

“Kami ingin memastikan setiap pengelola HIPPAM siap menghadapi kemarau. Semua kendala kami petakan satu per satu agar distribusi air tetap berjalan dan masyarakat tidak kesulitan,” jelasnya.

Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, desa, dan pengelola HIPPAM, Bojonegoro optimistis mampu menekan dampak kekeringan tahun ini.

Langkah antisipatif ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga memperkuat ketahanan air bersih secara berkelanjutan di masa depan. (yin)